Grafik Harga Dinar dalam Rupiah dan Dollar

grafik harian

Performa Harga Dinar dalam Jangka Pendek & Panjang

Tampilkan postingan dengan label Investasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Investasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Februari 2012

Dibalik Peluang Naiknya Harga Perak


Oleh Endy J Kurniawan (endyjkurniawan.com)

Sebelumnya kita telah bahas bahwa perak bisa menjadi alternatif investasi logam mulia yang menjanjikan di tahun 2012. Jika Anda investor yang tak mau berhutang untuk mendapatkan pecahan besar emas dengan harga per gram lebih ekonomis dibanding yang pecahan kecil, memiliki perak adalah jalan keluar yang jitu. Karena grafik kenaikan tahunan perak relatif sejalan dengan trend kenaikan emas maka menyimpan perak adalah langkah mempertahankan daya beli uang yang kita punya, dibanding dengan menabung konvensional misalnya.

Rabu, 25 Januari 2012

Impact Investing : Peluang Baru Investasi Syariah


Oleh Muhaimin Iqbal (geraidinar.com)

Setelah kurang lebih empat tahun dunia investasi global diguncang krisis demi krisis, ternyata tidak semuanya berdampak buruk khususnya bagi dunia jangka panjang. Ketika orang mulai menyadari bahwa ternyata tidak ada cara yang mudah untuk bisa memperoleh hasil yang tinggi dengan risiko yang rendah, tidak ada passive income yang bener-bener passive atau bener-bener income (bukan malah expenses), kini mulai ada gelombang investasi baru yang disebut Impact investing.

Impact investing adalah ketika Anda dalam berinvestasi tidak hanya berfikir masalah risiko yang Anda hadapi atau hasil berupa uang atau materi yang Anda harapkan, tetapi lebih jauh dari itu – Anda berfikir tentang pengaruh (impact) dari investasi Anda pada keberadaan kehidupan di dunia ini dalam jangka panjang.

Bila dalam pertimbangan investasi konvensional orang bersedia membabat hutan karena dengan biaya yang sedikit (risiko yang kecil) dapat memberikan hasil yang sangat banyak, mengeruk kekayaan alam tanpa memikirkan dampak jangka panjangnya – maka dalamimpact investing orang tidak meakukannya yang seperti ini.

Setiap investasi dipertimbangkan jauh pada pengaruh jangka panjangnya untuk keberadaan kehidupan di muka bumi, menyangkat tersedianya air yang tetap bersih layak minum, udara yang bersih layak hirup, kecukupan pangan yang berkelanjutan, tidak adanya penyakit yang tidak ditemukan obatnya, kesehatan yang terjaga, suhu udara yang tidak terus bertambah panas, bencana alam yang tidak terus terjadi dlsb.dlsb.

Impact investing intinya adalah investasi yang tidak hanya mengharapkan hasil jangka pendek atau menekan risiko jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan risiko jangka panjang dan hasil jangka panjang yang tidak sepenuhnya dapat dinilai dengan uang.

Saat ini didunia diperkirakan sudah ada lebih dari US$ 175 milyar dana diinvestasikan pada bidang-bidang investasi yang memenuhi kriteria impact investing ini. Salah satu cerita yang layak ditiru adalah apa yang dilakukan oleh Parag Gupta di India.

Gupta yang mendirikan ‘perusahaan pemulung’ pada tahun 2009, menjadi model pengelola investasi yang tidak hanya memberikan untung tetapi juga meningkatkan kwalitas hidup masyarakat yang dilayaninya secara langsung maupun tidak langsung.

Bila kita mengenal pemulung pada umumnya bekerja di tempat-tempat yang kotor, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah kota. Maka tidak demikian halnya dengan ‘perusahaan pemulung’ Gupta. Perusahaannya yang diberi nama  Waste Capital Partners mengambil sampah langsung dari rumah tangga - rumah tangga.

Perusahaan ini kemudian memilah-milah sampah tergantung dari jenisnya. Mengolah dan mendaur ulang bagi yang bisa didaur ulang, dan membuangnya secara proper untuk yang harus dibuang. Dengan cara ini perusahaan tersebut dapat menyelamatkan lingkungannya dari pencemaran dan meningkatkan pendapatan ‘para pemulung’ yang terlibat di dalamnya.

Konsep mereka yang sangat Indah dituangkan dalam koperasi khusus yang mereka sebutWaste Ventures, Anda dapat menyaksikan videonya yang sangat inspiratif di home pagemereka.

Karena kerja yang luar biasa untuk memperbaiki taraf hidup dan lingkungan ini, perusahaan Gupta tersebut juga memperoleh ‘bonus’ dari negara-negara maju berupa dana dari Carbon Credit Market atas kontribusinya dalam mengurangi pencemaran CO2 di udara yang kini tengah menjadi isu global.

Jauh sebelum Gupta melahirkan perusahaan pemulungnya, jauh sebelum para investors yang concern bersedia mengumpulkan dana ratusan milyar Dollar untuk apa yang mereka sebut impact investing, sesungguhnya investasi seperti inilah yang antara lain seharusnya menjadi focus para pengelola investasi syariah.

Mengapa demikian ?,  kalau saya tafsirkan secara bebas  – investasi syariah kan mestinya investasi yang harus dapat menunjang tercapainya tujuan syariah atau yang biasa disebutmaqasid syariah.  Maka investasi yang memiliki impact langsung maupun tidak langsung dalam  mewujudkan atau menjaga iman, jiwa, akal, harta, kehormatan/keturunan-lah yang mestinya masuk kategori investasi syariah.

Jadi kalau ada perusahaan seperti ‘perusahaan pemulung’-nya Gupta tersebut di atas di Indonesia misalnya, maka perusahaan semacam inilah yang antara lain layak mendapatkan dukungan investasi syariah itu. Demikian juga usaha-usaha yang bisa menjaga ketersediaan air bersih tetapi bukan mengeksloitasinya, yang menanam banyak-banyak pohon bukan yang hanya menebangnya, yang mampu menjaga sumber daya alam dan bukan malah yang hanya mengeruknya.

Aktivitas semacam ini sesungguhnya juga sudah beberapa pula dilakukan oleh saudara-saudara kita yang concern - hanya kita mungkin belum mengenalnya saja. Masalahnya adalah  karena apa yang mereka lakukan dianggap tidak layak untuk disebut ‘investasi’ dalam pengertian konvensional – maka mereka jarang mendapatkan dukungan dana yang semestinya.

Salah satunya adalah apa yang saya saksikan sendiri selama akhir pekan kemarin. Selama ini kalau kita mengenal waduk, biasanya yang membuat pemerintah. Tetapi KH. Abdullah Said (Almarhum)- Pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah – telah membuat waduknya sendiri seluas +/- 10 ha di Gunung Tembak – Balikpapan sejak tiga dasawarsa lalu.

Danau buatan yang dibangun Almarhum bersama team dan santrinya tersebut hingga kini terus mengalirkan manfaat yang luar biasa bagi kwalitas kehidupan masyarakat di sekitarnya, menjaga ketersediaan air di wilayah itu, menjadi sumber protein hewani dari ikan-ikan yang di kelola di dalamnya, menjadikan lingkungan pesantren indah untuk ditinggali, dan bahkan TNI-pun menggunakannya sebagai salah satu tempat untuk mereka melatih para tentaranya.

Tetapi dengan segudang manfaat tersebut, siapa yang meniru dan mengikuti jejaknya untuk mau terus membangun waduk-waduk buatan seperti waduk buatan Almarhum ini – di berbagai wilayah tanah air yang banyak mengalami krisis air ?. Pastinya tidak banyak. Kami-pun meniru apa yang dibuat beliau , tetapi dengan skala yang sangat jauh lebih kecil di Jonggol.

Mengapa ?, karena dalam konteks investasi konvensional – apa yang beliau lakukan tersebut dan juga kami berusaha tiru - tidak dianggap investasi. Manfaat yang begitu besar bagi kehidupan – jauh melampaui usia para pelakunya – pun tidak dianggap sebagai hasil oleh dunia investasi konvensional. Maka tidak banyak yang mau mendanai project semacam ini, tidak banyak yang mengikutinya karena dianggap bukan investasi.

Nah kalau orang-orang diluar Islam saja concern untuk kehidupan yang panjang sehingga mereka rela menggerakkan apa yang mereka sebut impact investing, masak kita yang mengenal syariah, yang yakin bahwa hidup sesudah mati itu ada, akhirat itu benar dan janji Allah dalam Al-qur’an itu pasti benar -  tidak yakin dengan  hal jazaa ‘ul ihsaani illal ihsan – tidak ada balasan suatu kebaikan selain kebaikan pula ?.

Dari dua contoh investasi yang tidak biasa tersebut diatas, satu dari apa yang dilakukan orang lain di luar Islam, dan satu dari apa yang dilakukan oleh umat ini - maka semacam itulah antara lain jenis-jenis investasi syariah yang perlu terus kita explore peluangnya. Wa Allahu A’lam.

Senin, 16 Januari 2012

2012, Tahun Emas Investasi Perak


Oleh Endy J. Kurniawan (endyjkurniawan.com)

Logam mulia apa, diluar Palladium dan Platinum, yang seiring – sejalan kenaikannya dengan emas, bahkan mengalahkannya di 2009 – 2010? Logam apa yang dikonsumsi massal oleh industri sekaligus disimpan secara retail oleh investor perorangan? Apa komoditas yang sama populernya dengan emas di pasar komoditas internasional tapi tak terlalu jadi perhatian di Indonesia? Logam mulia apa yang berpotensi meledak di tahun ini dan tahun mendatang, dan sudah terlihat makin kuat gejalanya bertahun terakhir? Untuk semua pertanyaan di atas, perak jawabannya.
Perak memang sama bernilai seperti kakaknya, emas, dengan exchange rate yang lebih rendah. Lebih terjangkau untuk investor dengan dana sedang, tapi dengan tingkat hasil setingkat emas. Bob Quartermain, CEO Silver Standard Inc mengistilahi perak : It is often viewed as gold substitute or “poor man’s gold”. Pada masa imperium Romawi, Persia yang sejaman menggunakan perak sebagai koin tukar-menukar barang dengan gambar Kisra di salah satu sisinya. Dinarium (emas) dikenal di Romawi,  Dirham (perak) digunakan di Persia. Kekhalifahan Islam kemudian menstandarisasinya serta menggunakannya secara bersama sebagai alat bayar yang sah (juga sebagai simpanan pribadi masyarakat Islam) hingga berakhir awal abad ini. Di Eropa dan Amerika, alat simpan harta berupa perak ini hingga kini masih popular dalam bentuk koin dan batangan. Hampir setiap negara Eropa, juga Australia, Selandia Baru, Amerika dan Kanada memiliki brand untuk koin perak yang mereka keluarkan. Kondisi sebaliknya terjadi di masyarakat timur yang notabene mewarisi peradaban Islam, perak (juga emas) sangat terlupakan.
Banyak fakta lain yang menarik, dan analis percaya akan terulang dalam waktu yang dekat, setidaknya mendorong minat investasi perak akan membesar dalam waktu dekat. Minat yang membesar akan mendorong pelipatgandaan nilai komoditas.
-       Mungkin tak banyak yang mengamati, tapi kenaikan perak secara rata-rata 3 tahun terakhir jauh lebih tinggi dibanding emas. Secara berturut-turut mulai 2009 kenaikan perak 57% (emas 31%), 2010 kenaikan perak 65% (emas 24%) dan 2011 kenaikan perak 7% (emas 22%). Dilihat dalam tiga tahun, perak secara rata-rata telah naik 43%, sementara emas 26%
-       Pada 1979 – 1980, kita perlu 17 troy ounce perak untuk mendapatkan 1 troy ounce emas. Artinya rasio emas terhadap perak adalah 1 : 17. Pada kuartal 1 – 2011 rasionya 1 : 55. Sekarang makin menipis dan akan terus mendekat
-       Dalam satuan mata uang Dinar dan Dirham, standar jaman Umar ibn Khattab adalah 1 Dirham ada di kisaran 1/10 – 1/12 Dinar. Dirham adalah perak 2,975 gram dan Dinar adalah emas 4,25 gram. Untuk waktu yang sangat lama, hingga tahun 1500 Masehi, standar ini dijadikan standar bank-bank di UK. Pada 2009, 1 Dirham = 1/49 Dinar. Pada 2010, 1 Dirham – 1/26 Dinar. Angka ini makin mengecil untuk kemudian menemukan rasio normalnya kembali
-       Perpindahan kapital dari barat ke timur. 12% penduduk dunia di Eropa dan Amerika sekarang harus menerima kenyataan bahwa 88% pengendali pasar dunia, termasuk gerakan investor individual ada di Asia dan belahan timur lainnya. Investor dengan ledakan pendapatan di China, India dan Indonesia membelanjakan dana menganggurnya jauh lebih banyak logam mulia dibanding yang dilakukan masyarakat Eropa dijadikan satu. Dan, investor timur punya kecenderungan membeli di harga berapapun, yang artinya mendorong permintaan makin tinggi atas perak, emas dan logam hakiki lainnya. Bagi investor timur, logam mulia adalah pilihan pengganti investasi di sektor keuangan yang labil.
Saat ini perak belum mendapat perhatian serius investor Indonesia. Bagi investor jeli, ini saatnya masuk. Inilah tahun dimana perak akan makin secemerlang emas.

Selasa, 13 Desember 2011

Gold Based Capital (II) : Bijak Investasi Menggunakan Emas


Oleh Muhaimin Iqbal (geraidinar.com)

Setiap kali harga emas jatuh seperti beberapa hari ini saya selalu dihujani banyak pertanyaan dari pembaca, para vendor dan mitra kerja. Rata-rata pertanyaan mereka adalah seputar sampai kemana harga emas akan turun , mengapa turun, kapan akan naik lagi, apa yang harus kita lakukan dlsb. Tulisan ini barangkali bisa merangkum secara garis besar , jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut sekaligus.

Pertama yang ingin saya sampaikan adalah tidak ada seorang-pun yang bisa tahu persis apa yang akan terjadi, jadi yang bisa kita lakukan hanyalah menduga-duga berdasarkan peristiwa dan data startistik sebelumnya .  Pengalaman harga emas  anjlog beberapa bulan setelah angka tertingginya ini memang bukan untuk pertama kalinya terjadi.

Pada bulan Juli 2009 harga emas sempat jatuh ke angka Rp 297,000/gram  atau turun 20% dari harga tertinggi lima bulan sebelumnya di bulan Februari tahun yang sama yang sempat mencapai angka Rp 370,000/gram. Pagi ini harga emas akan berada di kisaran Rp 497,000/gram atau ‘baru’ turun sekitar 9 % dari angka tertinggi September lalu yang sempat mencapai kisaran Rp 545,000/gram.

Lantas apakah pola penurunan sekarang akan mengikuti pola penurunan 2009 yang mencapai 20 % ?, Wa Allahu A’lam , tetapi kemungkinan itu ada saja. Dari statistic jangka pendek beberapa bulan terakhir memang trend itu masih akan menurun – lihat grafik dibawah.

Trend Emas 4 Bulan
Trend Emas 4 Bulan
 

Trend penurunan ini utamanya disebabkan oleh peristiwa krisis global khususnya yang terjadi di Uni Eropa. Karena kepercayaan pasar terhadap Uni Eropa terus merosot, Euro hancur dan bahkan sudah ada wacana untuk membubarkannya. Krisis Euro ini menguatkan demandterhadap Dollar – karena berkurangnya daya tarik salah satu rival terkuatnya. Ketika US Dollar naik, harga emas dunia dalam US$ jatuh – bukan karena harga emasnya yang rendah, tetapi daya beli US$-nya yang menguat.

Pada saat harga emas cenderung turun dalam jangka pendek seperti ini, lantas apakah kita harus rame-rame menjual emas kita saat ini ?. Tidak demikian saran saya. Karena bisa jadi pola recovery seperti 2009 diatas juga berulang. Yaitu ketika harga emas sempat anjlog dalam jangka pendek (kurang dari 6 bulan), harga pulih ke angka tertinggi sebelumnya dalam 1.5 tahun dan bahkan jauh melampauinya hingga kini.

Grafik harga emas setahun terakhir yang masih menunjukkan trend menaik dibawah menconfirm hal ini, setahun terakhir harga emas masih mengalami kenaikan di kisaran 27 %.


Trend Emas 1 Tahun
Trend Emas 1 Tahun


Trend kenaikan ini menjadi lebih nyata bila kita tarik dalam jangka yang lebih panjang lagi, misalnya untuk 3 tahun seperti pada grafik dibawah. Tiga tahun terakhir harga emas mengalami kenaikan lebih dari 74 %.

Trend Emas 3 Tahun
Trend Emas 3 Tahun
 

Dari tiga grafik diatas, bisa kita simpulkan begini : Bila Anda investasi di emas untuk orientasi jangka panjang – satu tahun keatas, kemungkinan terbesarnya hingga kini Anda masih mengalami keuntungan yang significant – dikisaran 27 % atau sekitar 4 kali dari hasil deposito Anda.

Tetapi bila orientasi Anda jangka pendek seperti 4 bulan terahir misalnya, memang bisa jadi investasi Anda telah mengalami kerugian yang sangat berarti. Perhitungan saya kerugian Anda berada di kisaran 9 % dalam 3-4 bulan terakhir. Kerugian ini bisa menjadi lebih besar lagi bila Anda investasi emas menggunakan uang gadai/pinjaman dari bank/pegadaian. Bila diambil rata-rata biaya gadai 1.5% per bulan misalnya; maka kerugian Anda dalam 4 bulan terakhir bisa mencapai 15 % yaitu 9 % dari penurunan harga dan 6 % dari biaya gadai 4 bulan.

Lantas bagaimana yang seharusnya berinvestasi di emas, agar Anda tidak mengalami kerugian besar seperti dalam ilustrasi tersebut diatas ? Tiga ‘jangan’ berikut barangkali membantu :

1.   Pertama jangan berspekluasi dengan harga emas. Statistik jangka panjang memang menunjukkan trend kenaikan yang kuat, tetapi bukan berarti tidak bisa turun juga – khususnya dalam jangka pendek.

2.   Kedua jangan menggunakan uang pinjaman/gadai untuk membeli emas, karena ini akan menambah kerugian Anda ketika harga emas turun seperti sekarang.

3.  Ketiga jangan terjebak anut grubyuk dalam investasi – termasuk investasi emas sekalipun. Mayoritas orang yang ikut anut grubyuk – mereka membeli emas justru pada harga tertingginya karena mendengar cerita baiknya saja dari orang-orang sekitarnya, sebaliknya ketika harga rendah seperti sekarang mereka malah jarang yang membeli – karena hanya mendengar cerita buruknya saja dari yang telah mengalaminya. Yang benar adalah dengarkan cerita baiknya, tetapi juga perhatikan cerita buruknya seperti yang terilustrasi melalui tiga grafik diatas.

Dengan menyampaikan poin-poin tersebut diatas, khususnya poin 2 ; bukan berarti produk-produk gadai emas atau pinjaman dengan jaminan emas dari perusahaan pegadaian ataupun perbankan tidak baik untuk investasi. Produk-produk ini adalah produk yang baik dan telah lolos verifikasi para Dewan Pengawas Syariahnya masing-masing, jadi mestinya seluruh aspek produk ini telah dipikirkan matang-matang.  Hanya saja penggunaannya yang seharusnya bijaksana.

Salah satu penggunaan produk gadai emas atau pinjaman dengan jaminan emas yang saya sarankan adalah dengan konsep Gold Based Capital yang pernah saya tulis di situs ini. Emas sebagai jaminan atas modal untuk proses penciptaan nilai tambah (value creation), sehingga dari nilai yang di-create ini – biaya modal (biaya gadai misalnya) dapat terkompensasi dengan cukup bahkan ketika harga emas turun sekalipun. Penggunaan gadai emas untuk Gold Based Capital dapat menjadi peluang baru bagi bank-bank syariah karena mereka akan dapat menggerakkan sektor riil dengan jaminan yang sangat likwid yaitu emas – peluang ini tidak dimiliki oleh pesaing-pesaing mereka dari bank-bank konvensional.

Contoh aplikasinya begini : Kalau saya punya pabrik krupuk misalnya, untuk membeli mesinnya saya dapat dibiayai oleh bank syariah dengan dua cara, pertama dengan aqad murabahah terhadap mesin tersebut misalnya , dan yang kedua dibiayainya dengan menggadaikan emas saya – kemudian dananya saya pakai untuk membeli mesin. Bank kemungkinan besarnya akan lebih suka cara yang kedua karena ‘jaminan’nya lebih likwid , lebih mudah menentukan nilainya dan proses pembiayaan akan sangat cepat – sehari cair. Proses pembiayaan sehari cair ini tidak bisa disaingi oleh proses-proses pembiayaan yang konvensional !.

Pertanyaan spontan Anda mungkin adalah, kalau punya emas cukup untuk membeli mesin – mengapa masih perlu pinjam/gadai ke bank ?. Bila Anda memiliki usaha yang produktif seperti contoh pabrik krupuk tersebut diatas, Anda akan perlu memiliki dana-dana cadangan yang terakumulasi seperti keuntungan yang belum diambil, cadangan penggantian mesin (penyusutan), cadangan dana pengembangan usaha, cadangan pesangon karyawan dlsb. Dana-dana ini bila Anda simpan dalam Rupiah atau Dollar sekalipun akan terus tergerus nilainya, maka disimpannya dalam bentuk emas/Dinar.  Bila waktunya dana ini digunakan-pun tidak harus dijual tetapi bisa melalui proses gadai atau penjaminan tersebut diatas, dengan demikian Anda dapat melakukan wealth preserving sekaligus wealth producing melalui proses nilai tambah di sektor riil tersebut.

Hanya memang penggunaan akad rahn atau gadai sebagi instrumen Gold Based Capitalmenuntut bank selektif dalam menerima gadai. Tidak bisa lagi orang menggadaikan emas hanya untuk membeli emas berikutnya, yang bisa adalah orang menggadaikan emas untuk keperluan yang riil yaitu untuk proses nilai tambah – atau sekalian untuk keperluan dharurat seperti pembiayaan orang sakit dlsb.

Karena delicate-nya produk berbasis emas ini, saya sendiri tidak pernah menganjurkan produk ini dijual secara masal. Situs ini dan para agen Gerai Dinar-pun misi utamanya bukan untuk menjual Dinar ataupun produk turunannya - tetapi membuat masyarakat paham dahulu. Bahkan prinsip yang kami tekankan adalah membuat orang paham lebih penting dari membuat orang membeli. Wa Allahu A’lam.

Selasa, 29 November 2011

Cara Mudah Mengelola Risiko Investasi


Oleh Muhaimin Iqbal (geraidinar.com)

Apapun investasi Anda, risiko pasti Anda hadapi. Yang belum pasti adalah peluang terjadinya risiko atau yang dalam bahasa teknis disebut frequency, dan dampaknya bila suatu risiko bener-bener terjadi atau disebut severity. Inti dari pengelolaan risiko dari investasi Anda adalah tentang frequency dan severity ini, karena dengan ini Anda akan bisa bersikap dan bertindak secara proporsional sesuai dengan tingkatan risiko yang ada.  Ada cara yang mudah untuk memahami dan mengelola risiko ini yaitu dengan apa yang saya sebut Frequency and Severity Matrix  (FSM), hanya dengan dua lembar kertas Anda sudah bisa memahami, mengambil keputusan dan mengelola risiko-risiko Anda baik dalam hal investasi atau bahkan dalam aspek-aspek kehidupan yang lebih luas.

Pada lembar kertas pertama, Anda buat garis horizontal atau sumbu x dan garis vertical atau sumbu y, garis horizontal untuk merepresentasikan frequency dari risiko sedangkan garis vertical untuk severity-nya. Atau buat saja empat persegi panjang dengan panjangnyafrequency sedangkan tingginya adalah severity. Kemudian masing-masing sumbu mulai dari titik awal (0,0) Anda bagi tiga bagian dan diberi tanda low, medium dan high. Bidang persegi yang terbentuk akan menjadi tempat Anda menaruh jenis-jenis risiko yang Anda hadapi. Untuk menguatkan pemahaman, bisa saja Anda beri warna – tetapi dibiarkan kertas polos juga tidak apa.

Sekarang Anda tinggal menaruh jenis-jenis risiko yang Anda kawatirkan pada matriksfrequency dan severity tersebut diatas. Berikut adalah beberapa contoh yang saya lakukan.

1.     Gempa Bumi : Saya kategorikan frequency-nya rendah (belum tentu terjadi seumur hidup) , tetapi bila terjadi tingkat kerugiannya bisa sangat dasyat atauseverity-nya high.
2.     Berbagai bentuk kecelakaan yang serius : cukup rendah frequency-nya tetapi rata-rata orang pernah mengalaminya, dampaknya tidak setinggi gempa bumi.
3.     Perampokan : frequency-nya lebih rendah dari kecelakaan tetapi dampak risikonya bisa lebih besar.
4.     Banjir : Di Jakarta frequency banjir berada antara  medium high , sekitar lima tahun sekali terjadi banjir besar. Bila terjadi dampak risikonya juga bisa lumayan besar.
5.     Pencurian : cukup sering terjadi tetapi dampaknya biasanya tidak terlalu besar.
6.  Kecelakaan ringan : tergantung kebiasaan kita atau kegiatan kita sehari-hari, frequency-nya bisa rendah sampai tinggi – tetapi secara umum dampaknya rendah.
7.     Penyakit : Risiko ini termasuk yang cukup tinggi dan dampaknya-pun serius karena tidak jarang menjadi penyebab kematian penderitanya.
8.     Kehilangan Nilai/Daya Beli : Diluar kesadaran banyak orang, kehilangan nilai atau daya beli adalah suatu risiko yang mendekati kepastian statistik – artinya bisa dihadapi oleh siapapun kapan saja dan dampaknya sangat serius. Setiap 4.3 tahun kita kehilangan daya beli separuh dari uang kertas yang kita miliki dan peristiwa seperti krismon 1997/1998 menghabiskan sekitar 75% dari nilai atau daya beli uang kita semua.

Baik jenis risiko maupun posisinya di FSM tersebut diatas berbeda dari satu individu ke individu lainnya. Ini wajar saja karena menyangkut pengalaman yang berbeda, kebiasaan hidup, tempat tinggal, lingkungan dlsb. yang semuanya berpengaruh pada persepsi terhadap risiko.

Matriks Identifikasi Risiko
Matriks Identifikasi Risiko

Setelah kita taruh masing-masing risiko tersebut pada matriks frequency dan severity seperti dalam ilustrasi diatas, lembar kertas kedua adalah kertas contekannya yang kurang lebih seperti pada ilustrasi grafik dibawah.

Matriks Penanganan Risiko
Matriks Penanganan Risiko
 

Dengan membandingkan masing-masing posisi risiko dengan lembar contekannya, Anda sudah bisa untuk memutuskan apa yang akan Anda lakukan terhadap risiko-risiko tersebut diatas.

Risiko yang frequency-nya tinggi tetapi  severity atau dampaknya rendah, maka bisa Anda tahan (retain atau absorb) saja InsyaAllah tidak masalah.  Sedangkan risiko yang meskipunfrequency-nya rendah tetapi dampaknya bisa sangat serius seperti gempa bumi, maka Anda perlu mencari solusi-nya. Bentuk solusi jenis risiko yang kedua ini yang umum di pasaran adalah asuransi atau takaful.

Bagaimana dengan risiko yang cukup sering terjadi dan dampaknya juga cukup serius seperti banjir ?, sedapat mungkin dijegah (prevent). Usaha pencegahan ini ada yang  dalam kapasitas individu seperti memilih lokasi rumah/usaha yang bebas banjir, ada pula yang sifatnya harus dilakukan masyarakat secara luas atau pemerintah – seperti membuat waduk-waduk penampungan air, banjir kanal dlsb.

Bagaimana dengan risiko yang berada di zone merah dalam grafik diatas ?, ini adalah jenis risiko yang sedapat mungkin dihindari. Contohnya adalah risiko inflasi atau penurunan daya beli yang saya taruh di zone merah ini, mengapa ?. Bayangkan bila ada risiko yang mengambil harta Anda separuh setiap 4.3 tahun, bukankah ini adalah risiko yang sangat tinggi dari sisi frequency maupun severity-nya ?. Itulah realitas yang dihadapi uang kertas dengan inflasinya. Solusinya adalah menghindari (avoid) penggunaan uang kertas sebagai sarana penyimpan hasil jerih payah Anda dalam jangka panjang karena Anda pasti rugi !.

Ketika Anda memindahkan atau mengkonversi dari satu jenis asset ke asset lain, otomatis berubah pula jenis risiko yang dihadapinya – oleh karena itulah ketika Anda melakukannya, faktor risiko ini juga harus dipertimbangkan. Misalnya Anda menukar tabungan jangka panjang Anda menjadi property asset; maka dari uang kertas yang berisiko tinggi terhadap inflasi, Anda pindahkan ke property yang berisiko terhadap banjir, gempa bumi dlsb. Tetapi risiko gempa bumi dan banjir lebih rendah dari inflasi, bahkan untuk gempa bumi dan banjir masih memungkinkan untuk diproteksi terhadap melalui asuransi atau takaful – sedangkan risiko inflasi tidak ada asuransinya.

Walhasil dengan memahami karakter masing-masing investasi Anda dari sisi risiko yang dihadapinya, insyaAllah Anda akan bisa mengelola investasi Anda dengan lebih aman. Amin.

Pilihan Investasi, Saham vs Emas


Oleh Muhaimin Iqbal (geraidinar.com)

Saya sering sekali mendapatkan pertanyaan yang terkait pilihan investasi antara saham atau emas, baik dari kalangan investor individu maupun korporasi. Saya sudah pernah menulisnya dari thesis S 2 Ibu Sri Pangestuti lebih dari setahun lalu – juga dalam beberapa tulisan sebelumnya, namun karena masih banyak pertanyaan dan juga sambil meng-update data – analisa sejenis saya munculkan lagi dalam tulisan ini dengan data yang lebih baru.

Data-data yang saya gunakan dalam tulisan ini berasal dari dua sumber yaitu dari Kitco untuk data emas, dan dari saluran Yahoo Finance untuk data bursa saham dunia yang terwakili olehDow Jones Industrial Average (DJIA) maupun saham-saham di Indonesia Stock Exchangeyang terwakili melalui IHSG-nya. Masing-masing saya ambil data untuk lima tahun untuk dapat menggambarkan situasi yang berkembang dalam perekonomian Indonesia maupun global akhir-akhir ini.

Saya tidak akan gunakan analisa teknis, tetapi cukup dengan menggunakan tiga ilustrasi dibawah untuk memberi gambaran mana yang lebih menarik bila harus memilih investasi antara saham atau emas.

Grafik pertama dibawah memberikan ilustrasi kinerja saham-saham di dunia yang terwakili oleh DJIA. Dengan mudah kita bisa melihat bahwa kinerja DJIA cenderung menurun dari kisaran angka 12,500 ke kisaran 11,500 dalam lima tahun terakhir, sebaliknya pada periode yang sama harga emas melonjak dari kisaran angka US$ 600-an/ozt ke kisaran angka mendekati US$ 1,800/ozt.

Emas vs Dow
Emas vs Dow

Artinya untuk jumlah emas yang sama yang Anda miliki lima tahun lalu, rata-rata akan mendapatkan tiga kali jumlah saham yang lebih banyak bila Anda belanjakan untuk membeli saham-saham perusahaan kelas dunia di bursa internasional. Grafik kedua dibawah menggambarkan hal ini dalam bentuk trend Dow Gold Ratio.

Dow Gold Ratio
Dow Gold Ratio

Lantas bagaimana kinerja saham yang ada di Indonesia ?. Rata-rata lima tahun terakhir memang lebih baik dari saham di bursa global, namun tetap belum bisa melebihi kinerja emas dalam periode yang sama. Lebih jauh lagi dalam grafik dibawah, kita bisa tahu bahwa kinerja saham ternyata lebih berfluktuasi atau lebih beresiko ketimbang emas. Artinya trend lima tahun terakhir masih sejalan dengan trend yang lebih panjang yang dikaji oleh Ibu Sri Pangestuti dalam thesisnya tersebut diatas, bahwa emas memberikan hasil lebih baik dan dengan resiko yang lebih kecil.

Emas vs IHSG
Emas vs IHSG

Tetapi bagaimana dengan sektor riil bila orang terus rame-rame pindah ke emas ?, inilah yang sering saya sampaikan bahwa emas hanyalah untuk mempertahankan nilai agar hasil jerih payah kita tidak tergerus oleh inflasi. Investasi idealnya adalah bila kita bisa memutar sendiri dana kita di sector riil dengan baik, insyaallah hasilnya akan lebih baik dari emas dan otomatis akan lebih baik dari saham karena ternyata saham tidak lebih baik dari emas seperti yang ditunjukkan oleh grafik-grafik tersebut diatas.

Inilah jawaban saya untuk Anda yang masih menanyakannya. Wa Allahu A’lam.

Rabu, 19 Oktober 2011

10 Investasi Bagi Orang Takut


Oleh Muhaimin Iqbal (geraidinar.com)

Bagi kita yang saat ini berada di usia 40-an , 40 tahun lagi atau sekitar tahun 2050 kemungkinan terbesarnya kita sudah tidak ada di dunia ini. Tetapi penduduk bumi saat itu diperkirakan mencapai 9 milyar jiwa dan sebagiannya adalah anak cucu kita. Di antara sekian banyak problem yang mungkin dihadapi oleh mereka saat itu, problem terbesar yang sudah bisa diprediksi dari sekarang adalah kecukupan pangan untuk mereka. Tidak-kah kita terpikir untuk mulai berbuat saat ini untuk meringankan beban anak cucu kita nantinya ?

Badan pangan dunia Food and Agricultural Organization – FAO telah memprediksi bahwa produksi pangan dunia harus meningkat 70% dari sekarang bila ingin penduduk bumi saat itu memperoleh pangannya secara cukup. Padahal lahan pertanian maksimalnya hanya bisa bertambah 10 % dari yang sekarang ada di seluruh dunia dan di sebagian negara malah menyusut bukannya bertambah, maka solsuinya haruslah peningkatan produktifitas hasil dari setiap jengkal tanah pertanian yang ada.

Bila Anda termasuk yang terketuk untuk ikut menyelamatkan generasi yang akan datang ini, berikut antara lain 10 jenis investasi yang bisa Anda lakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap anak cucu kita semua – pilihan lainnya tentu juga banyak. 

1.     investasi di tanah-tanah pertanian (membeli) dan mengamankannya untuk tetap menjadi tanah pertanian. Sudah terlalu banyak lahan-lahan pertanian yang berubah fungsi menjadi perumahan, lapangan golf, jalan raya dlsb. waktunya menghentikan semua ini dan setidaknya mempertahankan lahan yang tersisa untuk pertanian.
2.     investasi pada pengetahuan pertanian dan sarana penunjang, dengan mempelajari seluk beluk ilmu pertanian umumnya dan sarana penunjangnya untuk kemudian mulai berbuat untuk mengamalkan ilmu pengetahuan ini.
3.     investasi pada upaya untuk menghasilkan tanaman-tanaman organic  lengkap dengan  pupuk-pupuknya, pestitisadanya dlsb, dunia akan sangat membutuhkan healthy product yang semakin langka kedepan.
4.     investasi untuk penanganan pasca panen segala bentuk hasil pertanian, karena apapun produk pertanian saat itu harus bisa dihemat dan didistribusikan ke berbagai belahan dunia yang paling membutuhkannya.
5.     investasi pada sumber-sumber pangan yang bisa ditanam di tanah yang terbatas atau bahkan tanpa tanah, seperti tanaman vertical, hydroponic/areophonic, jamur dlsb.
6.     investasi pada manajemen atau pengelolaan air hujan karena inilah sumber utama kehidupan saat itu ketika air tanah sudah nyaris habis disedot atau tercemar.
7.     investasi untuk menghasilkan benih-benih unggul dan fertile sehingga bisa mengembalikan siklus pertanian yang sudah berlangsung ribuan tahun yang kini di sabot oleh para konglomerat benih. Harus dikembalikan agar setiap hasil panen selain hasil terbesarnya dikonsumsi – sebagiannya harus bisa menghasilkan benih untuk tanaman berikutnya.
8.     investasi untuk pertanian tanaman-tanaman bergizi tinggi, karena ketika kwantitas menjadi kendala maka kwalitas akan sangat dibutuhkan.
9.     investasi untuk produksi pangan hewani yang efektif baik dari jenis daging, ikan, susu, telur dlsb.
10.   investasi pada usaha pertanian berpresisi tinggi, yaitu pertanian yang ditunjang oleh hasil riset yang intensif, laboratorium analisa kecocokan tanah yang akurat, resep pemupukan yang efektif dlsb.

Tidak ada yang mudah di antara 10 investasi tersebut diatas, dan hasilnya-pun belum tentu bisa kita nikmati di usia kita sekarang – oleh karenanya amat sangat sedikit dari para pemilik dana saat ini yang mau menerjuni salah satunya. Tetapi bayangkan apa yang akan dialami oleh generasi anak kita yang masih balita saat ini, tidakkah kita ingin berkontribusi untuk mengamankan masa depan mereka ?

Selain untuk anak cucu kita sendiri, investasi semacam ini juga dapat menjadi bentuk respon langsung kita atas peringatan Allah : “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya…” (QS 4:9).

Semoga kita termasuk orang-orang yang takut tersebut…., amin !



Informasi lainnya klik :
Gerai Dinar Pekalongan Blogger - Gerai Dinar Pekalongan Wordpress - Gerai Dinar Pekalongan Facebook  - Gerai Dinar Pekalongan Twitter 

Rabu, 05 Oktober 2011

Investasi Anut Grubyug


Oleh Muhaimin Iqbal (geraidinar.com)

Ada teman saya yang ahli pertanian dan telah lebih dari seperempat abad terjun langsung di lapangan dengan ilmu dan pengalamannya, dia kini piawai memilih apa-apa yang ditanamnya dan apa yang tidak. Yang dia tanam kini mayoritasnya adalah tanaman jangka panjang yang telah diriset dengan baik pasarnya hingga sepuluh dua puluh tahun kedepan, yang dia tidak tanam adalah tanaman-tanaman musiman yang mudah sekali ditiru orang dan mudah terjadi over supply ketika musim panen tiba.

Di tanaman semusim-pun dia dahulu melakukan riset dengan teliti kebutuhan pasarnya, sehingga dia awalnya menanam jenis-jenis tanaman yang sering berbeda dengan yang ditanam orang lain.  Namun kemudian karena melihat hasilnya, banyak petani lain suka ‘ngintip’ apa yang ditanam teman saya ini kemudian  mengikutinya. Lama kelamaan yang mengikutinya cukup banyak sehingga ketika panen tiba kembali over supply dan harga jatuh.

Demikianlah rata-rata petani kita, ketika tetangganya sukses bertanam melon maka dia ikut-ikutan menanam melon,  bila ada yang sukses bertanam cabe – maka rame-rame nanam cabe yang buntutnya tidak menguntungkan siapapun karena ketika musim panen selalu anjlog harganya.

Tetapi kebiasaan anut grubyug ini sesungguhnya bukan monopoli para petani saja, hampir seluruh perilaku masyarakat mengikuti pola ini – pola kegilaan massal atau dalam bahasa Inggrisnya disebut madness of  crowds – tetapi saya sendiri lebih menyukai istilah bahasa jawa yang saya anggap pas yaitu anut grubyug tadi.

Di akhir  tahun 80-an ketika awal-awalnya bursa saham Indonesia memasyarakat orang rela antri berjam-jam untuk membeli saham perdana dari nyaris perusahaan apapun yang akan go public. Tidak perduli perusahaan tersebut baik atau tidak, orang tetap menyerbu karena saat itu besar peluangnya harga melonjak ketika saham yang mereka beli mulai diperdagangankan di bursa.

Di awal 90-an ketika apartemen murah mulai diperkenalkan oleh sebuah group usaha di Kuningan, orang rela mengantri sejak sehari sebelumnya untuk membeli apartemen. Bahkan teman-teman saya yang saat itu belum mampu membeli apartemen-pun ikut-ikutan mengantri karena peluang untuk membelinya saja bisa diperjual –belikan.

Dan yang terakhir yang kita saksikan beberapa pekan lalu di Logam Mulia – Antam, orang rela mengantri dari tengah malam untuk mendapatkan kesempatan membeli emas keesokan harinya – padahal harga lagi tinggi-tingginya. Ironinya orang malah tidak mengantri lagi ketika harga lagi rendah seperti hari-hari ini.

Anut grubyug atau ikut-ikutan inilah yang selalu berulang di berbagai sendi kehidupan.  Bisa jadi ini pula penyebabnya mengapa  “…kebanyakan manusia merugi…” itu.

Selama lebih dari tiga tahun memperkenalkan Dinar atau emas, memang ada fenomena aneh yang dapat saya tangkap. Puncak-puncak pembelian masyarakat justru terjadi ketika harga lagi tinggi-tingginya, puncak pembelian berikutnya terjadi ketika harga baru turun dari harga tinggi sebelumnya.

Ketika harga terus beruntun turun untuk beberapa lama, pembelian emas atau Dinar justru ikut turun. Rupanya tidak banyak orang yang menggunakan trend jangka panjang sebagai acuannya untuk mengambil keputusan investasi. Di situs inipun sebenarnya selalu terpampang trend jangka panjang setahun atau bahkan 10 tahun, jadi sebenarnya cukup informasi untuk mengambil keputusan investasi Anda dengan pertimbangan jangka panjang dan bukan karena ikut-ikutan atau anut grubyug. InsyaAllah hasilnya akan lebih baik bila Anda ‘mengerjakan PR’ dahulu dengan banyak membaca, ketimbang sekedar mengikuti kemana arus orang banyak berinvestasi. Wa Allahu A’lam.


Informasi lainnya klik :

Gerai Dinar Pekalongan Wordpress http://geraidinarpekalongan.wordpress.com
Gerai Dinar Pekalongan Facebook http://www.facebook.com/geraidinar.pekalongan
Gerai Dinar Pekalongan Twitter  http://twitter.com/geraidinarpkl