Grafik Harga Dinar dalam Rupiah dan Dollar

grafik harian

Performa Harga Dinar dalam Jangka Pendek & Panjang

Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Makro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Makro. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Oktober 2011

Biduk Besar Berani Melawan Ombak, Tetapi Kayu Kecil Yang Sampai Ke Pantai

Oleh Muhaimin Iqbal (geraidinar.com)

Di puncak krisis 2008, tepatnya tanggal 17 October 2008 di blog saya yang lama saya menulis tentang Tahap-Tahap Krisis Dan Pengaruhnya Pada Harga Emas. Saat tulisan tersebut saya buat harga emas berada pada angka US$ 800-an/Ozt, tetapi saya menggambar grafik seperti pada gambar dibawah yang menggambarkan harga emas akan menjualang tinggi pasca krisis saat itu. Kini tiga tahun kemudian, harga emas berada pada kisaran US$ 1,700-an atau lebih dari dua kalinya. Kebetulan kah ? Tidak ada yang kebetulan di dunia ini…



Pasar dalam bentuk apapun terdiri dari sekumpulan manusia yang berbeda kebutuhan, kemudian dari perbedaan inilah manusia saling memenuhi kebutuhannya. Yang satu ingin menjual dan yang lain ingin membeli. Dari keinginan untuk menjual (supply) yang bertemu keinginan untuk membeli (demand) inilah harga terbentuk.


Tahap-Tahap KrisisTahap-Tahap Krisis

Karena perilaku manusia ini bisa dipelajari, semakin banyak jumlah orang yang terlibat semakin predictable – inilah yang disebut law of large number atau hukum bilangan besar.  Dari law of large number perilaku para pelaku pasar emas misalnya dapat kita visualisasikan menjadi grafik tersebut diatas.  Harga emas sekarang menjadi sangat tinggi dibandingkan harga tahun 2008 , ya karena perilaku manusia pencetak uang (yang merespresentasikan demand), mencetak uang kertas yang berlebihan – yang semuanya predictable dalam krisis saat itu.



Tetapi masalahnya adalah yang terjadi di pasar bukan hanya karena pengaruh satu factor saja; begitu banyak factor lain yang tidak semuanya kita ketahui. Jadi meskipun sesuatu itu predictable sekalipun- hasil pastinya memang tidak ada satu manusia-pun yang bisa membuat prediksi yang akurat. Waktu kemudian yang akan memberitahu kita bahwa prediksi kita akhirnya betul, sedikit betul atau salah sama sekali. Wa Allahu A’lam ; hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui.



Untuk krisis yang sekarang saja misalnya; prediksi kedepannya menjadi lebih rumit dari krisis 2008 yang epicentrum-nya hanya satu yaitu ekonomi Amerika yang saat itu gonjang-ganjing yang pemicu awalnya adalah sub-prime mortgage.  Saat ini ada setidaknya dua pemicu besar yaitu krisis hutang di Amerika (Trigger 1) yang sebelum mereda sudah disusul oleh pemicu besar yang lain yaitu ancaman default-nya beberapa negara di Uni Eropa (Trigger 2).



Dampak krisis yang susul menyusul ini pada emas ( dan juga komoditi lainnya) dapat divisualisasikan seperti pada garfik dibawah. Ketika Trigger  1 belum tuntas memasuki periode penurunan harga, Trigger 2 menyusulnya sehingga menggeser waktu penurunannya.


Crisis Impact on PricesCrisis Impact on Prices

Maka melihat krisis demi krisis tersebut seperti kita melihat ombak yang susul menyusul, sekuat apapun biduk besar bila melawan arus ombak tersebut dia akan tergulung – inilah yang terjadi di ekonomi Amerika dan kini Eropa. Sebaliknya, sebilah kayu kecil dapat menyelamatkan orang yang berpegangan kayu tersebut dan mengikuti kemana arah ombak membawanya.  Karena ombak akan berakhir di pantai, maka sebilah kayu tersebut juga akan mengantarkan orang yang memegangnya sampai ke pantai.



Biduk besar yang melawan arus tersebut adalah ekonomi kapitalisme ribawa yang memang sudah dijanjikan kehancurannya oleh Sang Maha Pencipta (QS 2 : 275 – 276). Adapun sebilah kayu kecil untuk berpegangan mengikuti arus ombak ini adalah inisitif-inisiatif kecil untuk kembali pada syariatNya dalam hal uang yang nilai daya belinya stabil sepanjang jaman, dalam hal pasar yang adil dan dapat diakses oleh semua orang, dalam hal sumber-sumber daya yang dikelola untuk dimakmurkan bukan untuk sekedar dikuasai dlsb.



Bayangkan bila siklus seperti pada grafik pertama diatas terbukti benar kembali dan berulang dalam tiga tahun ini  dan dengan komplikasi grafik kedua, maka daya beli uang Anda akan kembali tinggal separuh dari sekarang atau bahkan kurang. Tiga tahun ini adalah waktu yang pendek, yaitu ketika anak  Anda yang sekarang kelas 1 SMP, maka ketika dia masuk SMA biayanya akan dua kali dari biaya masuk SMA sekarang. Bila sekarang kelas 1 SMA, biaya masuk perguruan tinggi akan dua kali dari biaya sekarang dst. Maka inilah perlunya Anda memilih, biduk besar yang melawan ombak – atau kayu kecil (untuk saat ini) yang akan mengantar Anda ke pantai…buktinya sudah begitu nyata !.

Senin, 24 Oktober 2011

Awalnya Adalah Inflasi

Oleh Muhaimin Iqbal (geraidinar.com)

Gerakan Occupy Wall Street di Amerika Serikat beberapa pekan terakhir sepertinya menyampaikan pesan yang serius, bahwa ada yang salah dengan system ekonomi kapitalis yang sekarang mendominasi dunia. Bahkan karena common problem kapitalisme ini pula gerakan serupa mudah menjalar ke negeri lain seperti Jerman misalnya, maka lahirlah di negeri itu gerakan Occupy Berlin. Tetapi sebenarnya bagian mananya dari kapitalisme yang diprotes oleh rakyat dunia ini ?.

Dari sekian banyak cacat bawaan kapitalisme, satu yang umum dan menyengsarakan rakyat adalah inflasi. Ketika pemerintah negara-negara di dunia mencetak uangnya secara berlebihan, maka mayoritas penduduknya akan menderita karena inflasi ini. Mereka telah bekerja sekuat tenaga tetapi penghasilannya tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhannya, inilah yang membuat rakyat di Amerika marah yang kemudian menular ke negara-negara besar lainnya.

Di tahun ini pula, kemarahan serupa terjadi di beberapa negara yang sampai menumbangkan pemerintahannya. Awalnya di Algeria ketika Januari lalu rakyatnya menuntut agar pemerintahnya memberikan (menurunkan harga) gula, demo ini sampai membawa 8 orang meninggal. Demo serupa ditiru di negeri tetangganya Tunisia yang berakhir dengan tumbangnya pemerintahan Ben Ali. Menular lagi ke Mesir hingga jatuhnya Hosni Mubarak, terus menular ke Libya  hingga jatuhnya Ghadafi – meskipun di Libya sebenarnya inflasi bukan menjadi isu, ke Syria dengan begitu banyak korban dan belum berakhir hingga kini. Di Indonesia kita juga pernah mengalami hal yang serupa, inflasi tinggi yang membawa kejatuhan Presiden Pertama dan Kedua negeri ini.

Namun sebenarnya bagi rakyat ada hal yang lebih penting ketimbang jatuhnya suatu rezim, yaitu teratasinya masalah yang mendasar yang menjadi pemicu ketidak puasan rakyat terhadap pemerintahnya – salah satunya ya inflasi itu tadi.

Di Indonesia misalnya kalau ditanya rakyat kebanyakan apakah pasca 1998 kita hidup lebih baik ?, jawabannya kemungkinan besarnya adalah tidak. Mengapa demikian ?. Grafik dibawah yang mencerminkan nilai tukar atau daya beli Rupiah kita – secara tidak langsung menjelaskan hal ini. Pasca 1998 diperlukan rata-rata sekitar 4 kali lebih banyak Rupiah untuk membeli barang kebutuhan  standar internasional yang dinilai dengan Dollar. Apakah penghasilan rakyat naik rata-rata 4 kali atau lebih pasca 1998 tersebut ?, saya rasa tidak.

Inflation to US$ - ComparedInflation to US$ - Compared

Sebagai pembanding, mengapa demo-demo yang sampai mengguncang pemerintahannya lebih kecil kemungkinannya terjadi di negeri seperti Jepang, China dan Australia ?, ya karena mereka relatif berhasil mengendalikan inflasi di negaranya. Bila rakyat makmur, mereka tidak akan peduli dengan siapa yang  duduk di pemerintahannya. Demikian pula sebaliknya, bila rakyat sengsara – maka siapapun pemerintahannya akan dinilai gagal oleh rakyatnya.

Bahwa rata-rata kita tidak menjadi lebih makmur pasca 1998, rakyat Tunisia tidak lebih makmur pasca rezim Ben Ali, rakyat Mesir tidak lebih makmur pasca jatuhnya Hosni Mubarak, dlsb. – adalah karena rakyat itu sendiri tidak berhasil memformulasikan target tuntutannya dengan baik.

Kesalahan itu adanya pada system yang memungkinkan rakyat begitu mudah kehilangan daya beli melalui inflasi, maka siapapun pemimpinnya bila dia tidak merubah system itu – kesengsaraan akan terus berulang.

Maka sebenarnya dunia tidak memerlukan transisi kepemimpinan yang memilukan seperti di Indonesia 1965, 1998;  dan di tahun ini ada di Tunisia, Mesir, Libya dan entah mana lagi ; yang dibutuhkan adalah transsisi damai yang bisa merubah dari system ekonomi yang menyengsarakan ke system ekonomi yang memakmurkan. Transisinya bukan dari satu kekuasaan ke kekuasaan lain, tetapi seharusnya dari satu pemikiran ke pemikiran lainnya. Wa Allahu A’lam.

Senin, 10 Oktober 2011

Occupy Wall Streets Memprotes Kapitalisme : Usaha Menjauh Dari Lubang Biawak


Oleh Muhaimin Iqbal (geraidinar.com)

Cerita tentang kapitalisme yang memakan dirinya sendiri pernah saya ilustrasikan dengan kisah di mitologi Yunani kuno – Erisychthon – si tukang kayu serakah dalam tulisan tanggal 07 Maret 2009.  Kini cerita yang sangat mirip itu berulang dengan gerakan yang menyebut dirinya Occupy Wall Street – gerakan pendudukan Wall Street oleh rakyat yang konon merepresentasikan kepentingan 99% rakyat Amerika.  Yang menarik bagi pelajaran kita adalah bila system ekonomi kapitalisme yang dibanggakan oleh negeri pengusungnya, ternyata membuat negerinya sendiri bangkrut dan 99 % rakyat tidak merasa diuntungkan – pantaskah ini kita ikuti ?.

Mengapa protes dengan pendudukan Wall Street yang merupakan icon kapitalisme Amerika begitu mudah mendapatkan fukungan rakyat dan bahkan dengan cepat menjalar ke kota lain ?, dugaan saya karena mereka memang mensuarakan isi hati rakyat negeri itu, mensuarakan penderitaan rakyat di bawah rezim kapitalisme.

Awalnya mereka memprotes tax cut yang diberikan oleh pemerintah bagi 1 % penduduk terkaya negeri itu, sementara mayoritas yang 99% rakyat menderita karena krisis ekonomi yang berdampak pada job cut, salary cut dan cut- cut yang lainnya yang berujung pada penurunan layanan umum untuk mayoritas masyarakat.

Lantas apa yang mereka perjuangkan ?. Pertama mereka memperjuangkan dihentikannya dispensasi pajak bagi orang-orang kaya negeri itu – yang bisa menghemat uang negara sampai US$ 5 Milyar  - jumlah ini menurut para demonstran tersebut cukup untuk membuat rakyat Amerika mampu bertahan hidup melewati krisis yang kini melanda.

Kedua yang mereka perjuangkan adalah program penciptaan lapangan kerja yang nyata dan berarti, karena selama ini program-program penciptaan lapangan kerja hanya menjadi komoditas politik ketika para tokoh politik tersebut berkampanye meraih dukungan masyarakat.

Ketiga mereka memperjuangkan penurunan biaya hidup yang meliputi biaya pendidikan, biaya kesehatan, dan biaya –biaya lainnya. Ini karena mereka merasakan betapa beratnya persaingan bekerja untuk memperoleh penghasilan, tetapi setelah mereka peroleh penghasilan tersebut dengan susah payah ternyata uang mereka memiliki daya beli yang rendah sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Ini ironi sekali sebenarnya karena sampai tahun 2010 lalu, menurut IMF GDP per capita Amerika adalah US$ 46,860 atau mencapai lima kali dari GDP per capita rata-rata penduduk dunia tahun tersebut yang berada pada angka US$ 9,238 per capita.

Mengapa dengan penghasilan yang begitu besar  mereka masih menderita juga ?, bandingkan ini dengan GDP per capita Indonesia 2010 yang hanya US$ 2,974 atau kurang dari sepertiga GDP per capita rata-rata penduduk dunia atau kurang dari 1/15 GDP per capita rakyat Amerika. Pelajaran apa yang bisa kita peroleh ?.

Sederhana sebenarnya, bahwa system ekonomi kapitalisme ala Amerika ternyata tidak membuat rakyatnya berkecukupan.  Pertama karena angka-angka penghasilan tersebut – hanya sekedar angka di atas uang kertas – yang daya belinya terus menurun, kedua karena tingginya penghasilan rata-rata tidak berarti penghasilan tersebut merata di sejumlah besar rakyatnya. Untuk Amerika, ya yang 1 % penduduknya yang berpenghasilan selangit, yang 99 %-nya tidak jauh berbeda dari negeri lain di dunia.

Lantas ketika suatu system di negerinya sendiri diprotes rakyatnya karena tidak bisa memakmurkan mereka, mengapa system yang sama mereka doktrinkan untuk diikuti di seluruh dunia ? baik melalui pasar modalnya, perbankannya, system moneternya dlsb.dlsb. ?.

Mungkin inilah salah satu tafsir lubang biawak yang kita sudah diingatkan oleh uswatun hasanah kita lebih dari 1,400 tahun lalu : “ Sedikit-demi sedikit kalian akan mengikuti sunnah-sunnah umat terdahulu. Sampai-sampai, andaikata mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian juga ikut mereka memasukinya.” Ada yang bertanya , “ Wahai Rasululah, apakah mereka yang dimaksud adalah Nasrani dan Yahudi ?” Beliau menjawab, “Lalu siapa lagi ?”  HR. Bukhari Muslim.

Hadits tersebut diatas menjadi sangat relevan karena perilaku ekonomi kapitalisme Amerika tersebut diatas memang tidak lepas dari kendali kepentingan Yahudi dalam strateginya menguasai dunia, melalui salah satu caranya yaitu memiskinkan mayoritas umat di dunia dan mengijinkan segelintir orang saja di dunia yang bisa menjadi kaya.

Masihkah kita akan mengikuti mereka memasuki lubang biawak ?, meskipun sangat berat karena semua system yang ada sekarang mengarahkan kita kesana, kita tetap harus terus berusaha menjauh dari pusaran lubang biawak tersebut. InsyaAllah kita bisa.

Informasi lainnya klik :
Gerai Dinar Pekalongan Blogger - Gerai Dinar Pekalongan Wordpress Gerai Dinar Pekalongan Facebook  - Gerai Dinar Pekalongan Twitter 

Jumat, 09 September 2011

Amerika Banyak Emas Tetapi (Terancam) Bangkrut, Kok Bisa…?

Oleh Muhaimin Iqbal (geraidinar.com)

Seolah ada ironi besar pada ekonomi kapitalis yang mendominasi dunia saat ini, yaitu negeri pemegang cadangan emas terbesar dunia (Amerika) yang juga bisa menjadi epicentrum dari gempa financial yang dapat meruntuhkan kapitalisme itu sendiri.  Banyak yang mengira bahwa Amerika yang merupakan negara dengan cadangan emas terbesar di dunia (8,133.5 ton) akan dapat selamat dari krisis hutang yang memuncak bulan lalu, ternyata kenyataannya tidak.  Cadangan emas mereka terlalu kecil untuk dapat menutup hutang-hutangnya yang menggunung,  berikut adalah penjelasan saya untuk merespon banyaknya pertanyaan mengenai hal ini.



Untuk penjelasannya, saya menggunakan data sekunder dari empat sumber yaitu IMF, World Gold Council , BI dan CIA Fact Book. Hasilnya saya tabulasikan secara sederhana pada table dibawah.


Gold, Debt and ReserveGold, Debt and Reserve

Amerika memiliki cadangan emas terbesar dunia yaitu 8,133.5 ton atau kurang lebih setara dengan sekitar US$ 484 Milyar dengan asumsi harga emas saat ini US$ 1,830/Ozt. Ini kurang lebih setara dengan 338.46% foreign exchange reserve mereka, di datanya CIA atau IMF diperkirakan hanya 74.7 % dari reserve karena harga emasnya belum di revaluasi sesuai harga yang up to date. Dibandingkan dengan reserve mereka seolah cadangan emas ini memang sangat besar, namun angka cadangan emas yang sangat besar ini ternyata sama sekali tidak memadai dibandingkan dengan hutang mereka yang berada di angka US$ 13.98 trilyun.  Cadangan emas mereka ini bila dipakai membayar hutang hanya cukup untuk membayar 3.46 % dari hutang mereka !. Bahkan bila ditambahkan dengan reserve-nya, Amerika hanya bisa melunasi 4.48% dari hutangnya dengan seluruh emas yang dimiliki plus foreign exchange reserve-nya.



Sebagai pembanding, kita dapat lihat apa yang dimiliki China. Memang China baru memiliki 1,054.10 ton cadangan emas atau kalau di Dollar-kan hanya sekitar US$ 62.7 Milyar, ini kurang lebih hanya setara dengan 1.96 % dari reserve China yang luar biasa besar mencapai US$ 3.2 trilyun. China juga memiliki hutang, tetapi hutangnya sangat kecil relative bila dibandingkan dengan reserve yang dimilikinya. Dengan cadangan emas yang dimiliki plus reserve-nya, China mampu membayar 8 kali (802 %) dari external debt-nya !.



Lantas bagaimana dengan kondisi negeri kita ?. Kita hanya memiliki sekitar 73.1 ton cadangan emas atau dengan harga saat ini kurang lebih setara dengan US$ 4.3 Milyar, ini juga setara dengan 3.49 % dari reserve kita. Bila ini kita pakai untuk membayar hutang, maka hanya cukup untuk membayar 2.22% dari nilai hutang. Tetapi karena reserve kita yang lumayan besar yaitu US$ 124.6 Milyar, reserve ini cukup untuk membayar sekitar 63.5 % dari hutang kita. Bila digabung dengan cadangan emas, maka kita mampu membayar sampai sekitar 65.7 % dari external debt negeri ini.



Jadi dari perbandingan tiga Negara tersebut, kita bisa melihat bahwa China sungguh perkasa meskipun  emasnya sangat sedikit dibandingkan dengan Amerika. Sebaliknya Amerika meskipun cadangan emasnya terbesar, kemampuannya untuk membayar hutang seandainya digunakan seluruh cadangan emas plus reserve-nya-pun – sungguh-sungguh sangat tidak memadai. Itulah sebabnya Amerika menjadi salah satu potensi epicentrum runtuhnya ekonomi kapitalisme global yang sangat serius untuk saat ini.



Untung kita orang Indonesia, kita tidak seburuk Amerika meskipun sangat jauh dibawah China. Cadangan emas dan devisa kita memang belum memadai untuk membayar hutang, tetapi kita masih bisa setidaknya berkomitmen untuk berhenti berhutang dan mulai kerja keras untuk meningkatkan produktifitas – kita masih memiliki harapan untuk bisa mencukupi kebutuhan anak cucu kita kedepan dan tidak meninggalkan mereka dalam kondisi yang lemah. InsyaAllah !.

Rabu, 24 Agustus 2011

Di Ambang Keruntuhan Kapitalisme

Di bidang ekonomi, undang-undang korporasi yang dikeluarkan oleh pemerintahan Gorbachev  di Uni Soviet bulan Mei 1988 menandai runtuhnya rezim ekonomi komunisme di negeri itu. Tahun berikutnya keruntuhan system ekonomi ini diikuti pula dengan runtuhnya system politik komunisme dari Uni Soviet dan sekutu-sekutunya yang ditandai dengan diruntuhkannya tembok Berlin pada bulan November 1989. Lantas apa kiranya tanda-tanda keruntuhan system kapitalisme ?, saya sendiri menjagokan keruntuhan Dollar sebagai perlambang runtuhnya kapitalisme itu.  Dan kini seperti tahap akhir dari suatu permainan catur, Dollar tinggal memiliki dua langkah lagi sebelum terkena skak mat !.

Skenario kematian Dollar ini pernah saya sajikan link videonya di situs ini melalui tulisan saya  The Day the Dollar Died, dalam film yang disiapkan dengan sangat serius oleh NGO National Inflation Association ini digambarkan bahwa Dollar akan mati manakala Quantitative Easing (QE) – bahasa lain untuk mencetak uang dari awang-awang – memasuki tahap QE 4.

Memang the Fed-nya Amerika sangat tidak suka disebut mereka telah melakukan QE 3 saat ini, tetapi tindakan mereka dengan menekan tingkat bunga yang sangat rendah sampai pertengahan tahun 2013 – membuat mereka harus membeli sangat banyak bond – lantas darimana uangnya ?, ya mencetak dari awang-awang tadi alias secara defacto mereka telah melakukan Quatitative Easing tahap 3.

Pasar tidak lagi percaya pidato atau statement, pasar meresponse tindakan dengan tindakan. Bila the Fed melakukan langkah-langkah yang berdampak pada menurunnya nilai Dollar, maka pasar bereaksi langsung dengan membeli asset-aset yang nilainya tidak lagi dipengaruhi oleh Dollar. Bentuk dari reaksi pasar ini antara lain adalah melonjaknya secara luar biasa harga emas sebulan terakhir – karena orang perlu sesuatu yang nilainya mampu bertahan .

Bahwasanya kapitalisme ribawi pasti hancur atau dihancurkan kita yakin karena sudah dikabarkan di Al-Qur’an (QS 2 : 276), masalah waktunya yang kita hanya bisa menduga atau memprediksinya – kita belum bisa tahu persis, tetapi tanda-tandanya nampak begitu dekat.

Megenai kapan waktunya Dollar akan mati ini memang tidak terlalu penting bagi kita,  yang lebih penting adalah apakah kita siap menggantikannya bila kapitalisme ikut mati bersama matinya Dollar ini ?, Jangan sampai justru kita ikut menjadi korbannya karena selama ini begitu tergantung dengan system kapitalisme dengan Dollar-nya ini.

Nah agar kita bisa menghadirkan system penggantinya, berikut adalah dua langkah yang menurut saya patut kita persiapkan :

Pertama kita memiliki dua pegangan yang bila kita berpegang pada keduanya dijamin tidak akan tersesat selama-lamanya.  Dua pegangan ini tidak lain adalah Al-Qur’an dan Al- Hadits. Persiapan logis untuk hal ini adalah mendalami Al-Qur’an dan petunjuk-petunjuk yang ada di dalamnya, mendalami pula hadits-hadits sahih sebagai rujukan atas berbagai hal urusan kehidupan tidak terkecuali urusan ekonomi ini.

Kedua harus dipahami bahwa kapitalisme tidak identik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Memang banyak sekali ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilahirkan di era kapitalisme, tetapi tidak berarti bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri bagian dari kapitalisme. Iptek adalah value neutral, bila mereka yang menggunakannya maka ia menjadi instrumen kapitalisme – bila kita yang menggunakannya maka ia bisa menjadi sarana untuk membangun system ekonomi yang mengikuti petunjukNya.

Teknologi web dan social media misalnya, sangat mungkin kita gunakan untuk mengaplikasikan system ekonomi yang memenuhi kriteria di ayat “ …agar harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang yang kaya saja diantara kamu…” (QS 59 :7). Dengan teknologi misalnya bisa saja pedagang busana kecil bersaing head to head dengan retailer fashion raksasa di dunia maya. Pengusaha perumahan yang hanya memiliki satu dua kluster rumah kecil – bisa saja bersaing langsung dengan perusahaan real estate besar yang tengah membangun kota mandiri, dlsb-dlsb.

Dengan teknologi, kesetaraan akses terhadap pasar dan sumber daya bisa dicapai, tinggal akses terhadap kapital saja yang perlu didandani. Ketika tembok yang terakhir ini – yaitu tembok yang membatasi akses terhadap kapital – berhasil di rubuhkan, akses terhadap kapital menjadi bukan lagi hanya milik golongan tertentu – maka lengkaplah sudah keruntuhan kapitalisme itu. InsyaAlah kita akan siap…!.

Turbulensi Ekonomi Dunia

Oleh Muhaimin Iqbal (geraidinar.com)

Seperti dalam perjalanan dengan sebuah pesawat terbang, pilot sudah mengumumkan bahwa kita akan memasuki cuaca buruk dan pesawat siap-siap menghadapi turbulensi – maka penumpang dianjurkan mengenakan sabuk pengaman dan duduk di tempatnya. Ada penumpang yang mendengarkan baik-baik pengumuman ini, duduk manis di tempatnya dan mengenakan sabuk pengaman – meskipun ikut cemas tetapi dia selamat. Penumpang lain yang mengacuhkan pengumuman tersebut – tidak mengenakan sabuk pengaman – maka dia bisa benjol terjedot sana-sani ketika pesawat terguncang.



Hampir semua kita seperti penumpang di pesawat tersebut, pesawat yang berupa ekonomi global – design dan produksi IMF, Bank Dunia dlsb,  dipiloti oleh Amerika dengan co-pilot para sekutunya, dan di awaki pula oleh berbagai pasar modal dan sejenisnya – selebihnya adalah penumpang.



Beberapa pekan lalu ‘pilot’ sudah mengumumkan seperti pengumuman tersebut diatas, kemudian para ‘awak kabin’ sudah pula berusaha menenangkan para ‘penumpangnya’ – tetapi guncangan-guncangan baru bermunculan dan penumpang yang tidak mengenakan sabuk pengaman kembali terjedot-jedot.



Siapakah pelaku pasar yang tidak mengenakan sabuk pengaman dan terjedot-jedot tersebut ?. Mereka adalah para pelaku pasar yang mengandalkan ‘kertas’ dalam pengelolaan assetnya, baik kertas ini berupa uang fiat, saham maupun produk-produk turunannya. Uang kertas US$ misalnya sudah kehilangan daya beli 49 % terhadap emas dalam setahun terakhir – lebih dari 13 %-nya terjadi dalam sebulan terakhir. Dow Jones Industrial Average kehilangan 3.68% nilainya hanya dalam perdagangan kemarin – dan ini bukan yang pertama kalinya dalam sebulan terakhir saja.



Karena harga emas dunia pada umumnya bergerak berlawanan arah dengan bursa saham, maka ketika saham-saham hancur – emas justru melonjak naik, inilah yang Anda dapat saksikan pada trend harga emas sebulan terakhir – termasuk juga lonjakan harga pagi ini, inilah sabuk pengaman Anda untuk sementara ini.



Jadi siapa pelaku pasar yang mengenakan sabuk pengaman ?, ya itulah orang-orang yang sebulan terakhir rame-rame mengamankan dirinya dengan ‘sabuk pengaman’ antara lain berupa emas tersebut. Mereka ikut terguncang dengan roller coaster ekonomi dunia, tetapi tidak ikut terjedot-jedot. Bila hari-hari ini Anda berkunjung ke Logam Mulia – Antam, Anda akan melihat antrian panjang orang-orang yang sedang berusaha ‘mengenakan sabuk pengaman’ ini.



Bagi kebanyakan kita yang hidup dan bekerja di jaman ini, kita sudah terlanjur berada di dalam pesawat yang sedang mengalami turbulensi tersebut diatas. Uang kebanyakan kita adalah uang kertas, seluruh hasil kerja kita di perusahaan tersimpan dalam bentuk tabungan, deposito, dana asuransi, reksa dana, dana pension, unit link dlsb yang semuanya adalah aset kertas. Aset yang dengan mudah terjedot-jedot oleh  turubulensi pesawat yang membawanya.



Barangkali inilah jaman yang oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah diprediksi : “ Sedikit-demi sedikit kalian akan mengikuti sunnah-sunnah umat terdahulu. Sampai-sampai, andaikata mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian juga ikut mereka memasukinya.” Ada yang bertanya , “ Wahai Rasululah, apakah mereka yang dimaksud adalah Nasrani dan Yahudi ?” Beliau menjawab, “Lalu siapa lagi ?” HR. Bukhari Muslim



Karena kita sudah terlanjur berada di dalam pesawat yang sama, dan kita memasuki lubang biawak yang sama pula – maka untuk sementara yang kita dapat lakukan adalah memasang ‘sabuk pengaman’ tersebut diatas.



Namun segera setelah ‘pesawat’ ini akhirnya nanti bisa mendarat dengan selamat, kita bukan hanya ganti pesawat – tetapi kita juga harus ganti tujuan. Tujuan kita tidak lagi sama dengan mereka – yaitu mengejar kekayaan materi semata untuk kehidupan duniawi – kita memiliki tujuan yang lebih jauh lagi yaitu kehidupan kita yang abadi nantinya.



Kita tidak lagi menumpangi pesawat-nya IMF yang dipiloti Amerika dan diawaki oleh para spekulan pasar, pesawat kita adalah syariat agama ini yang dituntun oleh ‘pilot’-nya Al-Qur’an dan ‘co-pilot’ hadits dan sunnah Rasul, dan diawaki pula oleh para ulama yang telah menulis berbagai karya-karyanya di berbagai bidang.



Maka insyaAllah kita tidak akan lagi mengikuti mereka memasuki lubang biawak itu…!.

Selasa, 09 Agustus 2011

Saya 'Bermimpi' Obama Ke Jonggol

Oleh Muhaimin Iqbal (geraidinar.com)

Setelah memuat tulisan saya kemarin (08/08/11), saya kembali ‘bermimpi’ – ini cara lain untuk mencapai  sesuatu yang nampaknya memang masih jauh.  Dalam ‘mimpi’ saya kali ini, ada anak (yang pernah tinggal di) Menteng – yang membaca tulisan saya – anak ini sekarang menjadi orang gedean yang bernama Obama. Karena sudah suntug dengan persoalan ekonomi yang dihadapinya, professor-professor ekonomi dari universitas-universitas mereka yang konon terbaik di dunia-pun tidak juga bisa bantu atasi – maka si Obama yang  semasa kecil familiar dengan lingkungan Muslim ini – ingin mencoba cara lain untuk menyelamatkan ekonomi negerinya. Maka dia memerintahkan secret service-nya untuk mengamankan suatu iring-iringan perjalanannya yang tidak biasa, yaitu ke sebuah madrasah kecil di Jonggol - Madrasah Al-Qur’an Daarul Muttaqiin.



Di Madrasah inilah dalam ‘mimpi’ tersebut rombongan ini kami terima secara lesehan  - sebagaimana majlis-majlis kami lainnya. Dalam rombongan besar Obama diajak serta menteri luar negerinya yang bersusah payah menyesuaikan kebiasaan tuan rumah dengan berjilbab, menteri keuangan dan juga chairman dari bank sentral-nya (the Fed), adapun dari kami ada  saya sendiri didampingi para ustadz dan para santri yang tengah menghafal dan mendalami Al-Qur’an.



Dengan bahasa Indonesia yang (masih) dikuasai-nya cukup baik, Obama menyampaikan maksudnya kurang lebih sebagai berikut : “ ...setelah membaca tulisan Anda, kami berpikir untuk pingin tahu lebih jauh – aplikasi dari teori Anda tersebut untuk mengatasi problem yang kami hadapi...”. Kemudian dia meminta menteri-menterinya menjelaskan lebih detil apa yang mereka hadapi. Menteri keuangan mereka menjelaskan tentang bagaimana system ekonomi yang ditempuh selama ini, dilanjutkan penjelasan the fed chairman tentang bagaimana mereka terus mencetak uang dari awang-awang (thin air) selama ini, dan yang terakhir penjelasan menteri luar negerinya mengenai mengapa mereka nyaris bangkrut – karena membiaya perang yang begitu mahal di Iraq, Afganistan, Lybia dan entah mana lagi.



Mendengar paparan team ini, kami berdiskusi sejenak dengan para santri dan para ustad. Di antara mereka ada yang bersikeras – jangan dibantu orang-orang seperti ini, mereka selama ini telah kurang ajar sama saudara-saudara Muslim kita di belahan dunia lain, bahkan mereka jelas-jelas bersekongkol dengan musuh abadi umat ini yaitu yahudi laknatullah – mengapa harus dibantu ?.



Tetapi kemudian kami ingat, bahwa ulama besar kita yaitu Imam As-Syahid Hasan al Banna  dalam nasihatnya tentang urut-urutan amal pernah menyampaikan bahwa urutan terakhir dari amal kita adalah kalau kita sudah sampai bisa menjadi ustadziyatul ‘alam atau guru bagi dunia – siapa tahu dengan memberi nasihat ke rombongan Obama kali ini – kita bisa mewujudkan hal tersebut. Maka akhirnya kami sepakat untuk memberikan butir-butir solusi aplikatif  bagi ekonomi mereka. Saya yang ditunjuk untuk menjadi juru bicaranya para ustadz dan santri Madrasah Al-Quran ini, akhirnya menyampaikan butir-butir ini ke Obama dan teamnya sebagai berikut :



Pertama : “ Anda harus berani menon-aktifkan uang Anda dan menggantinya dengan emas dan perak secepatnya. Semakin lama Anda pertahankan, akan semakin runyam ekonomi Anda dan juga ekonomi dunia. Untuk ini Anda tidak usah susah-susah memikirkan system penggantinya jauh-jauh. Ada LSM di negeri Anda yang siap membantu Anda yaitu GATA, bahkan LSM ini sudah sejak 10 tahun lalu menyiapkan draft pidato Anda untuk malam pembubaran Dollar. Pidato ini harus Anda bacakan ke rakyat Anda Ahad malam Senin sepulang Anda dari sini”.



Kedua : “Anda harus merubah segala system peraturan yang ada di negeri Anda agar terjadi pemerataan ekonomi. Agar tidak terjadi sejumlah orang di negeri Anda sangat kaya – tetapi Anda sibuk mencari hutangan baru untuk membiayai tunjangan sosial bagi rakyat Anda yang miskin, para veteran dlsb.”



Nggak sabar menunggu penjelasan saya, Obama menyela : “Tetapi bagaimana kongkritnya pak ? ”.



Begini,  ada setidaknya tiga sektor yang akan membantu pemerataan ekonomi ini. 



Pertama adalah sektor permodalan (capital) : “Di system capitalist Anda , capital adalah for the privilege of few, berjuta orang mengumpulkan uang di bank-bank Anda , tetapi yang bisa mengakses uang di bank tersebut untuk aktivitas produktif hanyalah beberapa orang saja – selebihnya masyarakat hanya menggunakan uang bank secara konsumtif yang membuat masyarkat Anda juga terlilit hutang kartu kredit dlsb. Berjuta orang rela menaruh uangnya di pasar-pasar modal Anda, tetapi pasar modal Anda hanya menjadi seperti casino raksasa – ini yang menjadikan rakyat Anda berjudi dengan modal yang mereka miliki – bukan menggunakannya untuk sektor riil !. Tentang hal ini Anda bisa mengirim team untuk belajar detil tentang koperasi dan BMT di negara-negara yang selama ini Anda sepelekan. Koperasi dan BMT inilah selama ini sudah belajar menggalang dan menggunakan capital secara bersama, capital yang dikumpulkan oleh orang banyak – juga harus available untuk orang banyak”.



Kedua adalah sektor sumber daya (resources) : “Jangan sampai sumber daya alam Anda – lagi-lagi hanya dikuasai untuk kepentingan segelintir orang. Fokus pengelolaan sumber daya Anda harus pada manfaat seluruh rakyat Anda. Bila selama ini ada sekelompok pengusaha yang menguasainya secara berlebihan hanya untuk kelompoknya sendiri atau bahkan dikuasai lahannya hanya untuk spekulasi – maka pemerintah Anda harus mencabut hak penguasaannya dan memberikan kepada pihak-pihak yang bisa memakmurkannya untuk kepentingan masyarakat luas.



Ketiga adalah sektor pasar: “Tidak mudah untuk rakyat kecil bisa berusaha di negeri Anda. System standar, peraturan, perijinan dlsb. hanya mudah diakses lagi-lagi oleh pengusaha besar. Yang bisa berproduksi dan menjual dagangannya adalah orang yang sudah kaya. Pernah saya lihat di negeri Anda ada petani yang mau menjual sayur-mayur hasil panenannya langsung ke konsumen, malah di gerebeg oleh tentara layaknya petani ganja saja. Anda tuduh petani ini membahayakan rakyat Anda hanya karena menjual sayur –mayur yang belum disertifikasi. Oh, Please deh...Obama !. Anda harus fasilitasi agar rakyat miskin Anda bisa dengan mudah berproduksi dan menjual hasil produksinya – sama mudahnya dengan rakyat Anda yang kaya !. Akses pasar inilah sarana pemerataan kesejahteran rakyat Anda yang paling efektif – agar ekonomi Anda tidak digilas oleh musuh bebuyutan Anda yaitu China !”.



Sebenarnya saya mau meng-elaborate penjelasan saya lebih lanjut, tetapi santri-santri kecil kami sudah tidak sabar untuk ikut nimbrung menasihati Obama dengan celetukan-celetukannya : “Anda harus menghentikan perang di negeri-negeri yang bukan urusan Anda” ; “Anda harus berhenti menganggap pesantren-pesantren seperti ini adalah mengajarkan terorisme”. “Anda harus mendukung setulus hati Anda untuk kemerdekaan Palestina” ; “Anda harus berhenti membiayai Israel untuk memusuhi saudara kami di Palestina” ; “Anda harus ber-shahadat...” dlsb.dlsb.



Karena banyaknya celetukan yang bener dari para santri ini – sampai team Obama kewalahan mencatatnya. Kemudian saya minta anak-anak diam, untuk memberi kesempatan ustad-ustad ikut bicara.  Maka dengan wibawanya ustadz-ustadz tersebut hanya mengungkapkan dua kata saja yaitu ‘Aslim Taslam,  karena Obama nggak ngerti maksudnya, dia bertanya : “Apa ? ”,  sambil mendekatkan telinganya ke-arah ustad yang mengucapkannya, kemudian ustad tersebut memperjelas dalam bahasa Indonesia ‘Masuklah Islam Agar Anda Selamat !’. Dia mengangguk - tetapi kami tidak tahu apakah karena paham dan akan melaksanakannya atau sekedar ingin menyenangkan kami yang sudah sedari tadi menasihati mereka.



Sampai disini saya terbangun dari ‘mimpi’ dengan puas, meskipun hanya ‘mimpi’ – saya bersyukur telah berani ‘bermimpi’ menasihati orang yang konon paling berkuasa di muka bumi ini, namun justru karena kekuasaannya-lah ekonomi dunia kini berada di tebing jurang. Maka dibutuhkanlah nasihat yang tidak biasa untuk mereka, nasihat dari orang kecil di pesantren kecil – tetapi memiliki ‘mimpi’ yang besar – ‘mimpi’ untuk menjadikan santri-santri kami kelak sebagai ustadziyatul ‘alam . InsyaAllah.

Senin, 08 Agustus 2011

Mereka Sudah Merobohkan Rumah-Rumah (System) Mereka Dengan Tangan Mereka Sendiri

Oleh Muhaimin Iqbal (geraidinar.com)

Sudah beberapa pekan ini, orang Amerika – terutama tokoh-tokoh pentingnya selalu gelisah di akir pekan. Bila dua pekan lalu mereka gelisah dengan krisis plafon hutang, ketika plafon hutang ini teratasi – ternyata masalah baru yang tidak kalah seriusnya muncul. Masalah baru ini adalah ketidak percayaan pelaku pasar terhadap ekonomi negeri itu, ini tercermin dari anjlognya saham-saham di bursa pekan lalu justru setelah plafon hutang disepakati naik. Ketidak percayaan ini bahkan juga  di confirm oleh salah satu pemeringkat hutang Standard & Poor’s, yang menurunkan credit rating hutang jangka panjang Amerika dari AAA ke AA+ dengan outlook negative – masih mungkin bertambah buruk lagi !.



Kejadian penurunan rating yang pertama kalinya sejak Amerika memperoleh AAA nya 70 tahun lalu itu, tentu akan menimbulkan gejolak pasar yang sulit di bayangkan di seluruh dunia. Untuk meminimisasi efek penurunan rating ini bahkan Standard & Poor’s memilih waktu Jum’at malam – ketika semua bursa sudah tutup untuk pengumumannya.  Pagi ini gejolak bursa termasuk harga emas akan sulit dihindari karena efek gempa penurunan rating yang tidak sepenuhnya bisa dimitigasi – sepanjang akhir pekan.



Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa negeri yang paling kaya dengan GDP per capita rata-rata diatas 4 kali dari GDP per capita dunia tersebut justru menjadi sumber kekacauan ekonomi dunia dalam beberapa tahun terakhir ?. Perhatikan peta income ratio yang dibuat oleh University of California sekitar 10 tahu lalu dibawah.


Income Ratio 2000Income Ratio 2000

Ketika Indonesia masih berjuang dalam tiga dasawarsa dengan GDP per capita di kisaran 0.26-0.75 GDP per capita dunia, Amerika secara persisten mimiliki GDP per capita yang lebih besar dari 4 kali-nya GDP per capita rata-rata penduduk dunia. Tetapi inilah ironi kapitalisme itu, di negeri yang penduduk kaya-nya paling banyak di dunia itu – negaranya sendiri mengalami ancaman kebangkrutan yang sangat serius. Mereka sungguh-sungguh dalam simalakama yang luar biasa, ditambah plafon hutang – orang menjadi tahu bahwa negeri itu hanya selamat dengan hutang, tidak ditambah hutang – negeri itu langsung mulai default.



Kegagalan ekonomi Amerika yang juga representasi kapitalisme ini akan menjadi epicentrum dari gempa ekonomi global (lagi) yang dampaknya pasti akan kita juga rasakan.



Lantas timbul pertanyaan yang mendasar, bila kapitalisme gagal atau sedang menuju proses kegagalan, komunisme malah lebih dulu gagal dua dasawarsa lalu, lantas seperti apa ekonomi yang seharusnya bisa langgeng sampai akhir jaman ?. Bagi kita tentu  solusi ekonomi yang mengandalkan petunjuk Al-Qur’an dan Hadits.



Untuk krisis global yang epicentrum-nya di Amerika tersebut misalnya, jawaban Qur’ani-nya ada di penggalan surat Al Hasyr Ayat 7 : “... supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu...”.  Kalau saja kekayaan orang-orang Amerika lebih menyebar, krisis sekarang tidak akan timbul. Negerinya tidak perlu berhutang kesana-kemari untuk membayar gaji para veteran, tunjangan sosial masyarakat yang tidak mampu dlsb.



Peluang system (ekonomi ) Islam menggantikan system yahudi ini juga sudah dikabarkan oleh Allah di surat Al Hasyr pula, ayat 2 : “...mereka merobohkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.”



Mereka sudah merobohkan ekonomi mereka sendiri, maka kini waktunya tangan-tangan kaum muslimin untuk menghadirkan system penggantinya. Seperti apa konkritnya ?, inilah yang menjadi PR besar para ahli ekonomi dan praktisi Muslim, para hafidz dan hafidzhah yang mampu meningkatkan interaksinya dengan Al-Quran secara pari purna, tidak berhenti dari membaca dan menghafal, tetapi mampu memahami, mengimplementasikan (mengamalkan) dan mengajarkan setiap petunjuk yang ada di Al-Qur’an.



Bila tangan-tangan kaum muslimin tidak berhasil menghadirkan solusi-nya ketika mereka telah merobohkan system ekonomi mereka sendiri seperti yang terjadi saat ini – maka yang akan muncul tetap saja system kapitalisme yahudi dalam bentuk lainnya, lalu kita akan menunggu lagi kapan mereka akan merobohkan kembali system mereka itu dengan tangan mereka sendiri lagi ?. Wa Allahu A’lam.

Rabu, 03 Agustus 2011

Ketika System Ekonomi Adikuasa Kehilangan Kredibilitasnya

Oleh Muhaimin Iqbal (geraidinar.com)

Bila proses kiamat itu digambarkan seperti tasbih yang putus talinya, butir-butir-nya jatuh satu demi satu dengan urutan yang semakin cepat – nampaknya demikian juga proses runtuh-nya system ekonomi suatu negara. Hal ini nampak dari jatuhnya daya beli uang mereka – yang semakin hari semakin cepat. Bila dalam rata-rata 40 tahun terakhir, waktu T dari US$ - yaitu waktu yang diperlukan US$ untuk kehilangan separuh daya belinya – adalah 8.9 tahun, dalam  10 tahun terakhir waktu T ini tinggal 5 tahun, dan dengan drama krisis hutang yang baru berakhir kemarin – waktu T ini tinggal 3 tahun 8 bulan.



Grafik dibawah menunjukkan kenaikan harga emas dalam US$/troy ounce dan harga Dinar dalam Rupiah. Nampak Dollar dalam tiga tahun terakhir lebih buruk kinerjanya ketimbang Rupiah. T untuk Rupiah masih lebih baik dari Dollar yaitu 3 tahun 10 bulan – artinya Rupiah lebih mampu bertahan ketimbang Dollar – paling tidak untuk sementara ini.


Peluruhan US$ dan IDRPeluruhan US$ dan IDR

Ada proses pembelajaran yang luar biasa yang terjadi di masyarakat dunia dalam beberapa pekan yang lewat, mereka tiba-tiba sadar bahwa system ekonomi yang diusung oleh negeri – yang selama ini dianggap paling perkasa/adikuasa – ternyata rapuh, ternyata mereka hanya hidup dengan cara gali lubang tutup lubang. Perkiraan saya-pun bisa melesetsebelumnya saya menduga bahwa pasar akan meresponse positif dengan disepakatinya plafon hutang baru AS – ternyata kelegaan itu hanya berlangsung beberapa jam saja, setelah itu pasar menyadari bahwa ada yang seriously wrong dalam system ekonomi Amerika Serikat.



Hanya kurang dari 24 jam sejak disetujuinya plafon hutang baru AS, pasar kembali pesimis bahwa ekonomi AS akan pulih. Bahkan seorang ekonom yang juga comptroller general and head of the Comeback America Initiative - David Walker – kemarin di CNBC – menyatakan bahwa tidak lebih dari tiga tahun dari sekarang, Amerika akan menjadi seperti Yunani kini – yang tidak bisa membayar hutang dan kesana-kemari minta bantuan.



Dengan meluruhnya Dollar yang sangat cepat ini, lantas apakah Anda masih akan mengandalkannya untuk nilai tabungan/ deposito Anda ?, asuransi jangka panjang Anda ? atau sebagai cadangan devisa kita ?. Jangan mau ikut tenggelam bersama Dollar...!. Wa Allahu A’lam.

Rabu, 20 Juli 2011

Real Money : Dollar, Emas Atau...?

Oleh Muhaimin iqbal (geraidinar.com)

Ketika terjadi hyperinflasi mencapai 89.7 sextillion (1021) persen atau 89,700,000,000,000,000,000,000 di Zimbabwe dua tahun lalu , banyak penduduknya menjadi kehilangan orientasi nilai – perlu berapa Dollar Zimbabwe untuk bisa membeli roti ?. Dalam situasi seperti ini, bila seorang bekerja sebagai pegawai atau buruh - berapa upah yang pantas ?, dibayar 1 Milyar Dollar sehari-pun belum cukup untuk membeli roti !.  Maka pekerjaan (baru) yang rame-rame dilakukan oleh warga Zimbabwe saat itu adalah pergi ke  sungai-sungai untuk berburu emas, bila mereka mendapatkan 0.1 gram emas sehari saja – maka cukup untuk membeli roti bagi keluarganya hari itu.

Karena pengalaman Zimbabwe tersebut, belum lama ini National Inflation Association (NIA) – Lembaga Swadaya di Amerika yang misi-nya mempersiapkan warganya untuk menghadapi hyperinflasi – merekomendasikan seluruh warga Amerika agar rame-rame belajar mencari emas secara tradisional di sungai-sungai,  bahkan teknisnya diajarkan di artikel ehow !.

Berlebihan kah rekomendasi NIA ini ? menurut mereka sih tidak, karena berdasarkan pemantauan mereka akan tingkah laku penguasa - khususnya the Fed – negeri itu akan menuju kehancuran mata uang Dollarnya. Menurut saya sendiri berlebihan, bukan karena saya percaya Dollar-nya – tetapi banyak benda fisik lain yang dapat berfungsi sebagai uang selain emas. Jadi sama dengan Dollar Zimbabwe, Dollar Amerika juga akhirnya akan kehilangan daya belinya – sekarang-pun sudah - hanya tentu belum seburuk Zimbabwe – tetapi gantinya tidak mutlak harus emas.

Bila situasi seperti di Zimbabwe dua tahun lalu terjadi di Amerika, kemudian berdampak ke negara lain termasuk negeri ini – lantas apa uang yang bisa dipakai dalam situasi hyperinflasi ini ?. Berikut adalah 10 kriteria benda-benda yang bisa menjadi ‘uang’ bagi kita dalam situasi seperti apapun.

  1. Dia harus liquid, bisa dipertukarkan atau diperjual belikan dengan mudah.
  2. Dia harus acceptable, semua orang mau menerimanya dan mengakui nilainya.
  3. Harus divisible, bisa dibagi-bagi dalam unit yang lebih kecil tanpa harus kehilangan nilai (Kalung, gelang, berlian dan perhiasan lainnya tidak bisa dibagi-bagi karena akan kehilangan/berkurang nilainya)
  4. Dia harus addable, bisa dijumlahkan dan menghasilkan nilai yang proporsional dengan penjumlahan tersebut.
  5. Dia harus dapat secara spesifik diukur dalam berat, jumlah, karat, volume dlsb.
  6. Dia harus durable – bertahan dalam waktu lama tanpa kehilangan nilai ( Banyak pencari harta karun di laut-laut dalam berburu emas yang umurnya ratusan atau bahkan ribuan tahun, tetapi tidak ada orang berburu harta karun berupa Dollar !).
  7. Dia harus tidak mudah busuk dan kehilangan harganya – paling tidak selama proses jual beli berlangsung  sampai diambil manfaatnya. Di sini termasuk kurma dan gandum yang disebut dalam hadits jual beli – karena dalam kondisi kering keduanya mampu bertahan lama – beda dengan daging, sayur dan  buah-buahan misalnya.
  8. Dia harus memiliki nilai yang terbentuk oleh mekanisme pasar sempurna, tidak ditentukan oleh penguasa (bila yang menentukan nilainya penguasa – maka dalam kondisi krisis penguasa bisa kembali menghancurkan nilainya seperti yang terjadi di Zimbabwe tersebut diatas)
  9. Dia harus terkendali jumlahnya – bila bisa berlebihan dalam jumlah – maka dia akan otomatis kehilangan nilai.
  10. Dia harus tidak mudah untuk dipalsukan, hingga kini orang tidak mudah (tidak bisa) memalsukan perak, emas, gandum, kurma dan bahkan garam yang semuanya disebut dalam hadits jual beli.

Dengan sepuluh kriteria tersebut, sesungguhnya mudah untuk melihat mana benda-benda yang sesungguhnya adalah uang dan mana yang bukan. Maka ketika kendali uang di dunia ditangan orang –orang seperti Ben Bernanke (the Fed Chairman – US) – yang menyatakan bahwa yang sesungguhnya  uang (emas) adalah bukan uang dan yang bukan uang (Dollar) adalah uang  – bisa dibayangkan dampak yang bisa terjadi di system uang dunia yang kini berlaku – krisis ala Zimbabwe bisa terjadi di mana saja termasuk di Amerika yang mengaku adikuasa sekalipun. Di Youtube ada diskusi menarik tentang uang dan bukan uang ini antara senator Ron Paul dengan Ben Bernanke – untuk menambah wawasan kita.

Dengan sepuluh kriteria tersebut, kita kini punya semacam checklist untuk memverifikasi apakah ‘tabungan’ kita selama ini adalah uang atau bukan uang. Bila dia bukan uang-pun tidak menjadi masalah, asal dia adalah growing asset yang nilainya tumbuh seperti pohon-pohon, kebun dlsb. Yang perlu dihindari adalah jangan sampai tabungan itu tidak berupa uang yang sesungguhnya dan tidak pula berupa asset yang tumbuh – dia tidak akan memakmurkan malah sebaliknya dia menjadi wealth reducing assets - aset yang menurunkan kemakmuran pemiliknya !. Wa Allahu A’lam.