Grafik Harga Dinar dalam Rupiah dan Dollar

grafik harian

Performa Harga Dinar dalam Jangka Pendek & Panjang

Jumat, 23 Agustus 2013

Agar Kurs Tidak Membuat Kita Kurus

Oleh Muhaimin Iqbal (geraidinar.com)

Sumber : Bank Indonesia

Bahwa kurs konversi antar mata uang bisa membuat badan penduduk negeri ini pada menjadi kurus, itu benar-benar bisa terjadi kini. Mata uang Dollar yang kita butuhkan untuk mengimpor barang-barang kebutuhan, telah naik sekitar 14 % terhadap uang Rupiah kita dalam setahun terakhir.  Tetapi hal ini mestinya bisa dicegah oleh kita semua, bagaimana caranya ?

Kebutuhan Dollar Amerika yang begitu tinggi untuk mengimpor barang-barang kebutuhan sehari-hari kita termasuk kebutuhan pokok pangan, membuat harga barang-barang yang diimpor secara umum menjadi lebih mahal. Kalau kenaikan ini terjadi pada barang-barang kebutuhan sekunder, masih bisa dihindari untuk sementara tidak membelinya.

Tetapi kalau barang-barang ini menyangkut kebutuhan primer seperti bahan pangan, maka biar harganya mahal dia tetap harus dibeli. Tempe-pun kini sudah semakin mahal karena kedelainya sebagian besar diimpor dan ini dengan Dollar yang lebih mahal. Demikian pula dengan gandum, bahan pangan yang sama sekali belum diproduksi oleh negeri ini sendiri.

Apalagi daging yang harganya sudah terkerek naik sejak beberapa bulan lalu, belum nampak adanya upaya yang bisa efektif dan efisien dalam menurunkan harganya.

Walhasil kenaikan harga  tiga jenis bahan makanan kedelai, daging dan gandum ini saja sudah cukup untuk menguruskan badan rata-rata penduduk negeri ini.

Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa membebaskan diri dari problem yang klasik ini ? problem yang sama pernah memukul kita dengan begitu beratnya 15 tahun lalu dengan apa yang waktu itu kita sebut krisis moneter (krismon) .

15 tahun era reformasi nampaknya belum cukup untuk membuat kita sadar akan kelemahan arah pembangunan era-era sebelumnya dan kemudian memperbaikinya. Kita tetap bergantung begitu besar pada bahan pangan impor.

Padahal tidak kurang produk-produk pertanian lokal yang bisa dikembangkan untuk substitusi produk-produk impor tersebut. Koro pedang misalnya, bisa menggantikan kedelai impor bila dibudidayakan dan disosialisasikan dengan baik ke masyarakat serta dibangun industrinya. Kandungan protein keduanya cukup dekat yaitu koro pedang sekitar 27.4 % sedangkan kedelai 36.5 %. Kelebihan koro pedang adalah sifatnya yang bisa tumbuh di tanah marginal – bahkan bisa menjadi potensi untuk menyuburkan lahan-lahan gersang kita.

Sorgum yang memiliki kandungan protein dan karbohidrat (10.4% dan 70.7%) mirip dengan gandum (11.6% dan 71.0%), mestinya dapat menggantikan impor gandum yang telah berkembang hampir setengah abad di negeri ini. Memang sorgum tidak memiliki gluten seperti yang dimiliki oleh gandum, sehingga kurang cocok untuk dibuat roti dan mie yang memerlukan gluten tinggi. Tetapi kan roti dan mie memang mestinya bukan bentuk makanan pokok kita ? jadi kita musti bisa berkreasi dengan makanan-makanan yang lebih sesuai dengan kita dengan menggunakan bahan-bahan yang memang bisa kita produksi sendiri seperti sorgum ini.

Kelebihan sorgum dia bisa tumbuh hampir di mana saja termasuk di tanah yang marginal, kami sudah mencoba menumbuhkannya juga di Jonggol yang aslinya gersang dengan hasil yang baik.

Selain yang sifatnya ikhtiar dengan bekerja keras menanam sendiri tananam-tanaman untuk pemenuhan kebutuhan pangan yang sesuai seperti dalam contoh koro pedang dan sorgum tersebut diatas, ada hal lain yang bisa menjamin kecukupan kebutuhan pangan kita dengan hasil panen yang banyak dan dengan rasa yang ueenak.

Hasil panenan yang banyak dengan rasa yang enak seperti ini dijanjikan oleh Allah untuk negeri yang diberkahi sebagaimana ayat berikut :

…Masuklah kamu ke negeri ini dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai …" (QS 2:58).

Yang dimaksud dengan ‘negeri ini’ yang memberikan hasil bumi yang banyak lagi enak pada ayat tersebut adalah Baitulmakdis – yang dalam ayat lain disebut secara spesifik sebagai negeri yang diberkahi (QS 17:1).

Kita memang tidak bisa menjadikan negeri kita Baitulmakdis atau bagian dari negeri Syam , tetapi kita penduduk negeri ini  bisa menjadikan negeri kita negeri yang diberkahi – bila kita bisa memenuhi syaratnya, yaitu bila penduduk negeri ini beriman dan bertakwa (QS 7:96).  Jadi kita sesungguhnya memiliki potensi ‘pupuk’ yang sangat unggul yang tidak bisa dihasilkan oleh pabrik pupuk manapun di dunia, yaitu pupuk yang dijamin memberikan hasil panenan yang banyak lagi enak – itulah ‘pupuk iman dan takwa’.

Dari rangkaian ayat-ayat inilah semuanya menjadi nyambung, bahwa bila kita bisa menjadikan diri-diri kita penduduk negeri yang beriman dan bertakwa, Allah membukakan berkahNya dari langit dan dari bumi. Kita menanam bahan pangan apa saja hasilnya banyak dan rasanya enak. Negeri ini akan cukup makan dari hasil bumi kita sendiri dan menjadikan negeri ini Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghafuur (QS 34:15).

Bila kita makan hasil bumi kita sendiri secara cukup, kita tidak perlu mengimpor bahan pangan dari negara lain – kurs konversi menjadi tidak lagi relevan untuk kita. Kurs konversi tidak akan bisa menjadikan badan kita kurus karenanya. InsyaAllah.

Peak Gold, Harga Emas Dan Sirkulasinya

Oleh Muhaimin Iqbal (geraidinar.com)

Di dunia pertambangan dikenal istilah ‘peak’ untuk menggambarkan puncak produksi yang kemudian diikuti dengan penurunan produksi secara terus menerus. Pada hampir semua jenis pertambangan, para ahli tidak pernah bersepakat masalah kapan terjadinya ‘peak’ ini, apakah sudah lewat atau masih akan terjadi. Bagaimana dengan emas ? Apakah sudah terjadi peak gold ? indikator berikut bisa membantu kita memahami fenomenanya.

Data ini saya ambilkan dari Casey Research, yang menggambarkan hasil dari pertambangan-pertambangan emas terbesar dunia berdasarkangrade-nya. Yang disebut grade disini adalah berapa gram emas bisa diperoleh dari setiap ton penambangan bijih emas (Aurum Ore).

Rabu, 17 Juli 2013

Dinar Emas Harga Subsidi

Oleh Muhaimin Iqbal (www.geraidinar.com)

Sebenarnya bukan hanya BBM yang disubsidi di negeri ini, terkadang otoritas moneter kita juga secara tidak langsung mensubsidi semua barang yang dibeli dari luar atau dibeli dengan harga Dollar. Bulan Juni lalu saja cadangan devisa kita berkurang lebih dari US$ 7 Milyar atau sekitar Rp 70 Trilyun untuk subsidi tidak langsung ini, diantaranya untuk subsidi emas atau Dinar kita ! Kok bisa ?

Source : BI & Pacific Exchange Rate Service

Perhatikan grafik disamping, data cadangan devisa saya kumpulkan dari BI untuk dua tahun terakhir. Sedangkan nilai tukar Rupiah, saya kumpulkan dari Pacific Exchange Rate Service. Dalam dua tahun terakhir ada kecenderungan penurunan cadangan devisa kita – yang mendekati 20 % dalam dua tahun. Sejalan dengan ini, Rupiah juga memiliki kecenderungan turun terhadap Dollar ( dalam grafik Dollar-nya yang naik) – mendekati 17 % pada periode yang sama.

Senin, 15 Juli 2013

Solusi Inflasi Pak Kyai

Oleh Muhaimin Iqbal (geraidinar.com)

Sebagaimana ‘mimpi-mimpi’ saya sebelumnya (30/07/2012 dan 21/05/2013), kali ini saya ‘bermimpi’ kembali Pak Kyai diundang untuk hadir di sidang kabinet. Seperti juga pada sidang-sidang sebelumnya, Pak Kyai diminta masukannya untuk ikut mengatasi masalah – yang tidak terselesaikan dengan cara konvensional. Kali ini masalah tersebut adalah membubung tingginya inflasi bahan-bahan pangan pasca kenaikan harga BBM.

Ketika para menteri terkait menjelaskan panjang lebar permasalahan harga daging, bawang, cabe dlsb., Pak Kyai menyimak dengan seksama – sambil sekali-sekali membuka kitab yang sengaja dibawanya. Betul, Pak Kyai sengaja membawa kitab referensinya – berupa kitab-kitab hadits – untuk make sure solusi yang akan disampaikannya nanti memiliki dasar yang kuat. Referensi utamanya tentu saja Al-Qur’an, tetapi karena yang ini seharusnya sudah ada di ruang sidang kabinet – pikir Pak Kyai – maka dia tidak perlu membawanya sendiri.