Grafik Harga Dinar dalam Rupiah dan Dollar

grafik harian

Performa Harga Dinar dalam Jangka Pendek & Panjang

Minggu, 05 Juni 2011

Agar Rumput dan Dedaunan-pun Menjadi Teman

Oleh Muhaimin Iqbal (geraidinar.com)

Dalam istilah jawa ada peribahasa “suket godhong dadi rewang  (rumput dan dedaunan menjadi teman) untuk menggambarkan orang-orang  yang dimudahkan urusan atau rizki-nya. Sebaliknya orang yang selalu kesulitan dalam urusan atau rizkinya digambarkan sebagai “suket godhong dadi mungsuh” ( rumput dan dedaunan menjadi musuh). Ternyata kita bisa berupaya untuk menjadi-kan ‘rumput dan dedaunan’ ini teman kita, atau dimudahkannya urusan dan rizki kita. Ada dua jenis upaya yang dapat kita lakukan untuk ini – yang keduanya saling melengkapi.

Upaya yang pertama adalah dipenuhinya sunatullah hukum sebab akibat. Kita ingin kaya ya bekerja keras, ingin banyak teman ya banyak-banyak berbuat baik sama orang lain, pingin menjadi ahli dalam bidang tertentu ya belajar keras tiada henti, pingin unggul dalam bidang olah raga tertentu ya berlatih tanpa lelah dst.dst.

Selain ikhtiar yang bisa dinalar secara ilmiah tersebut diatas, ada upaya kedua yang belum semuanya bisa dinalar – tetapi petunjuknya begitu jelas baik dari Al-Qur’an maupun hadits-hadits yang sahih, maka upaya yang ini-pun layak sekali untuk dilakukan.

Dari sekian banyak petunjuk yang bisa ditemukan di dua sumber tersebut, saya ambilkan tiga diantaranya  - satu dari Al-Qur’an dan dua dari hadits sahih – yang dapat kita lakukan agar ‘rumput dan dedaunan-pun berteman dengan kita’. Tiga hal tersebut adalah sebagai berikut  :

Silaturahim

Coba Anda perhatikan orang-orang disekitar Anda baik itu saudara, tetangga atau pada diri Anda sendiri. Perhatikan siapa-siapa yang sukses, mudah urusannya dan banyak rizkinya ?.

Kemungkinan besarnya mereka ini adalah orang-orang yang banyak bergaul, banyak teman, baik pada saudara-saudaranya. Orang sering berprasangka buruk bahwa tentu dia banyak teman dan disukai saudara-saudaranya karena dia kaya ?. Belum tentu !.

Bisa jadi bukan karena kaya-nya yang menjadi sebab dia banyak teman dan disukai saudara-saudara maupun tetangganya. Tetapi bisa jadi malah sebaliknya, yaitu karena dia pandai berteman dan bersilaturahim dengan saudara maupun tetangga – maka dimudahkanlah urusan dan rizkinya oleh Allah SWT. Dasarnya adalah hadits berikut :

Dari Abu Hurairah Radliallahu ‘Anhu dia berkata, saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “barangsiapa ingin dibentangkan pintu rizki untuknya dan dipanjangkan ajalnya hendaknya ia menyambung silaturahim” (HR. Bukhari, hadits no 5526).


Sedekah

Sama dengan silaturahim diatas, bila Anda melihat orang-orang kaya disekitar Anda banyak bersedekah – mungkin Anda mengira bahwa karena kaya-nya yang membuat dia mampu banyak bersedekah. Belum tentu juga - bisa jadi yang terjadi adalah yang sebaliknya, justru karena dia banyak bersedekah (sejak dia masih miskin) maka dimudahkan Allah rizkinya. Allah memberinya ‘air hujan’ bahkan ketika orang lain kekeringan.

Perhatikan kisah berikut yang saya ambilkan dari kitab Riyadus-Shalihin :

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “ Pada suatu hari seorang laki-laki berjalan-jalan di tanah lapang, lantas mendengar suara dari awan :” Hujanilah kebun Fulan.” (suara tersebut bukan dari suara jin atau manusia, tapi dari sebagian malaikat). Lantas awan itu berjalan di ufuk langit, lantas menuangkan airnya di tanah yang berbatu hitam. Tiba-tiba parit itu penuh dengan air. Laki-laki itu meneliti air (dia ikuti ke mana air itu berjalan). Lantas dia melihat laki-laki yang sedang berdiri di kebunnya. Dia memindahkan air dengan sekopnya. Laki-laki (yang berjalan tadi) bertanya kepada pemilik kebun : “wahai Abdullah (hamba Allah), siapakah namamu ?”, pemilik kebun menjawab: “Fulan- yaitu nama yang dia dengar di awan tadi”. Pemilik kebun bertanya: “Wahai hambah Allah, mengapa engkau bertanya tentang namaku ?”. Dia menjawab, “ Sesungguhnya aku mendengar suara di awan yang inilah airnya. Suara itu menyatakan : Siramlah kebun Fulan – namamu-. Apa yang engkau lakukan terhadap kebun ini ?”. Pemilik kebun menjawab :”Bila kamu berkata demikian, sesungguhnya aku menggunakan hasilnya untuk bersedekah sepertiganya. Aku dan keluargaku memakan daripadanya sepertiganya, dan yang sepertiganya kukembalikan ke sini (sebagai modal penanamannya kembali)”. (HR. Muslim).

Istigfar

Hal ketiga yang dapat kita lakukan untuk mengatasi segala permasalahan baik yang terkait dengan usaha, rizki, keturunan sampai menghadapi paceklik atau krisis ekonomi adalah banyak-banyak ber-istigfar.  Dalilnya ada di Al-Qur’an sbb :

“Maka aku berkata “Mohonlah ampunan kepada tuhanmu sesungguhnya dia maha pengampun ;Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit ; Dan dia memperbanyak harta dan anak-anakmu; dan mengadakan kebun-kebuh untukmu; dan mengadakan sungai-sungai untukmu “. (QS Nuh 10 - 12).


Jadi selain belajar, berusaha keras, berlatih untuk mengasah ketrampilan, kita juga perlu banyak-banyak menyambung silaturahim – berbuat baik dengan sesama, membiasakan sedekah meskipun kita sendiri belum berkelebihan dan terus menerus beristigfar untuk kesalahan atau dosa yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari. Maka insyaAllah rumput-rumput dan dedaunan-pun akan menjadi teman-teman kita, kalau toh  sekali waktu kita terjatuh insyaAllah akan terasa empuk karena rumput dan dedaunan ‘nampani’ atau menyangga badan kita.

Sebaliknya, janganlah kita sampai memutus silaturahim, pelit dan merasa paling benar sendiri sehingga tidak pernah merasa bersalah dan meminta maaf, karena dengan ini hidup akan terasa sulit, rizki terasa sempit dan dalam kesulitan/kesempitan tersebut rumput dan dedaunan ‘mbeleri’ atau terasa tajam dan perih ikut menggores-gores tubuh kita. Na’udzubillahi min dzalik.

0 comments:

Poskan Komentar